Tanpa disadari, banyak juga yang menjadi agen ketenaran Sinta dan Jojo ini. Karena banyak yang mulai cerita ke orang lain tentang video mereka, sampai akhirnya beberapa bulan kemudian duo maut Keong Racun jadi trending topic di Twitter, mulai dibahas di berbagai media, bahkan sampai diundang di berbagai acara televisi.
Di wawancara mereka dengan salah satu media, dikatakan bahwa awalnya proyek 'masterpiece' Keong Racun hanya sekedar proyek iseng-isengan dari Sinta & Jojo. Banyak juga orang yang kurang yakin dengan penjelasan tersebut, sambil terpikir pasti ada hal lain yang memberi dorongan lebih besar, hingga mereka ingin upload beberapa video mereka di YouTube. Ternyata setelah ditelusuri lagi di berbagai media, keluarlah kata kuncinya. Bahwa sebenarnya Sinta-Jojo juga "ingin jadi artis", ingin terkenal dan eksis. Hal yang sangat wajar dikalangan anak muda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain mereka, ada lagi kasus yang juga fenomenal yaitu Gamaliel & Audrey, yang sudah terlebih dahulu menyandang status sebagai anak muda yang ngartis di YouTube. Duet kakak beradik yang memiliki talenta luar biasa ini, bahkan dikatakan jauh lebih berpotensi dan berisi ketimbang Sinta & Jojo. Tak sedikit pula yang mengatakan Gamaliel & Audrey adalah bintang YouTube sesungguhnya, the real YouTube star, yang juga sudah mencapai posisi ketenarannya sebagai anak muda berbakat di jaringan TV nasional.
Bisa tampil dan terkenal adalah impian mayoritas anak muda. Dengan berbagai cara mereka akan berusaha untuk mencapainya. Semangat yang tinggi, kreatifitas dan sedikit narsis, seringkali malah menjadi kunci mereka untuk eksis.
Usia muda adalah momen di mana jiwa masih bergejolak dan meletup-letup. Ingin jadi ini, ingin jadi itu, berusaha seperti a, ingin seperti b, ingin jadi artis, adalah hal yang biasa. Semua keinginan ini sebenarnya didorong oleh satu hal, yaitu ingin bisa tampil dan terkenal. Syukur-syukur malah bisa seperti idolanya.
Dari hasil riset yang kami lakukan, keinginan ini begitu menggebu-gebu pada usia sekolah hingga dibangku kuliah. Kemudian berangsur-angsur turun saat mereka menjadi lebih dewasa dan lebih realistis.
Tidak heran segala jenis program acara yang menjanjikan anak muda untuk jadi terkenal, pasti ramai pesertanya. Bahkan bagi mereka yang sebenarnya kurang berbakat pun nekat ngantri untuk ikut audisi. Lihat saja betapa panjangnya antrian audisi seperti Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, dan acara-acara sejenis lainnya.
Di era yang dulu di kala segala sesuatu masih serba vertikal, ditambah belum melunturnya budaya ketimuran, anak muda sulit untuk eksis dan tampil semaunya. Masih banyak aturan dan norma, belum lagi perasaan sungkan sama yang lebih senior. Di sisi lain, pada masa yang lampau kita memiliki sedikit sekali saluran dan platform yang memungkinkan anak muda untuk tampil, apalagi untuk menjadikan mereka eksis dan ngetop.
Tapi saat kita memasuki era New Wave seperti sekarang, semuanya sudah berubah, segala sesuatu semakin horizontal, media makin beragam, platform untuk bernarsis ria dan eksis, semakin banyak. Sebut saja YouTube, Facebook, Twitter dan masih banyak lagi lainnya.
Artikel ini ditulis berdasarkan analisa hasil riset sindikasi terhadap hampir 800 responden anak muda di 6 kota besar di Indonesia, SES A-B, Umur 16-35, yang dilakukan bulan Februari-Maret 2010 oleh MarkPlus Insight berkerjasama dengan Komunitas Marketeers.
Oleh Joseph Kristofel (Associate Research Manager, MarkPlus Insight)
Join the conversation on www.the-marketeers.com atau di Twitter @the_Marketeers
(qom/qom)











































