Tjiptardjo menyatakan pihaknya akan melakukan perbaikan-perbaikan dalam rangka mengamankan penerimaan negara. ke depan dalam rangka mengamankan penerimaan negara. Salah satu caranya dengan menambah aparat pajak hingga 40-50 ribu orang.
"Kita siapkan IT-nya, terdapat penambahan pegawai pajak sampai 40-50 ribu, tiap tahun kita tambah aparat pajak. Orang-orang terpilih dari perguruan tinggi, STAN," ujarnya di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (2/9/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi semua pihak wajib mendukung Ditjen Pajak. Kita kasih kepercayaan. Jadi benar-benar, makanya yang kita periksa yang bermasalah," ujarnya.
Tjipatardjo menyatakan langkah-langkah tersebut dilakukan untuk mencegah berulangnya kasus Gayus. Pasalnya, dampak dari kasus Gayus, ujar Tjiptardjo, begitu luar biasa baik dari internal maupun eksternal.
"Dalam awal menjalankan (reformasi) jilid II, kita dapat cobaan dari kasus Gayus. Dampaknya bukan main, baik keluar maupun internal. Keluar, luar biasa turun kepercayaannya, dengan adanya aksi Facebookers. Mereka marah dan tidak percaya kepada Ditjen Pajak. Yang ke dalam lebih tidak kalah beratnya lagi, pegawai pajak dipanggil Gayus-Gayus," tuturnya.
"Kepercaayaan diri pegawai menurun. Ada yang jadi pengurus masjid, pegang uang, langsung diganti takut uangnya dikorupsi. Daftarin sekolah putrinya, diadministrasikan, ketika ditanya kerja di mana, dijawab di Ditjen Pajak, langsung dibilang maaf tempatnya sudah habis. Reaksi masyarakat begitu kejamnya," kenangnya.
Dengan kejadian itu, Tjiptardjo menimpalkan kesialan yang dihadapinya sebagai Dirjen Pajak yang ke-13 tersebut dengan mitos 13 angka sial.
"Pada 2010 begitu hebatnya cobaannya berat, cobaan untuk Dirjen Pajak yang dipimpin Dirjen Pajak yang ke-13. Kok ya pas yang ke-13," keluhnya.
(nia/dnl)











































