Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan masalah ini setidaknya terungkap saat pertemuan join komisi bersama antara China dan Indonesia bulan Juli 2010 lalu. Kedua negara saling memaparkan data-data perdagangannya saling berbeda, dan hasilnya saling mengklaim defisit.
"Kalau kita menunjukan defisit dengan China, namun China juga menunjukan perdagangan yang defisit dengan kita," kata Mari di kantornya dalam acara jumpa pers, Jakarta, Jumat (3/9/2010.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mari mengatakan pada akhir tahun 2010 ini join komisi kedua negara akan melakukan pertemuan kembali yang kedua kalinya untuk membahas dan menganalisis, termasuk memutuskan apa saja yang harus dilakukan dari hasil perdagangan kedua negara.
"Joint expert group akan bertemu di akhir tahun apa yang akan dilakukan," katanya
Masalah perbedaan ini dapat dilihat dari beberapa pernyataan kedua belah pihak. Misalnya sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mencatatkan defisit atas kerja sama perdagangan dengan China hingga US$ 2,11 miliar dari Januari hingga Mei 2010, sedangkan per Mei 2010 Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 530 juta.
Sementara itu Wakil Dubes China untuk Indonesia Yang Lingzhu mengatakan total Perdagangan China dengan Indonesia mengalami defisit hingga US$ 250 juta sepanjang Januari-Mei 2010. Impor China dari Indonesia lebih tinggi dari pada ekspornya ke Indonesia.
Yang Lingzhu mengatakan pada periode Januari-Mei 2010 total nilai volume perdagangan RI-China mencapai US$ 15,97 miliar atau berarti meningkat 72%. Hal ini ditopang melalui impor China dari Indonesia sebesar US$ 8,11 miliar atau naik 85% sedangkan impor Indonesia dari China hanya US$ 7,86 miliar atau naik 79%.
(hen/dnl)











































