Sikap tegas disampaikan Puput, salah seorang pedagang parsel di Statisiun Cikini, Jakarta. Puput menyampaikan dia dan para pedagang parsel lainnya di lingkungan Stasiun Cikini kebanyakan membeli parsel di supermarket. Seandainya ditemukan parsel yang berisi makanan kadaluarsa, lanjut Puput, yang seharusnya disidak adalah pihak supermarket.
"Padahal kita beli di supermarket, kalau mau disidak ya ke sana," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nggak ada yang kadaluarsa. Kalau ada pasti dikembaliin. Mungkin ada di sana tapi di sini nggak berlaku," tegasnya.
Puput menyatakan dampak dari isu tersebut adalah banyak konsumen yang memilih membeli barang-barang untuk parselnya sendiri. Kemudian mereka meminta jasa untuk pengepakkannya. Antisipasi pengurangan pendapatan dari pihak penjual adalah para konsumen diharuskan menggunakan keranjang dan aksesoris parsel dari tokonya masing-masing.
"Ya jadi banyak yang bawa makanan sendiri karena takut expired (kadaluarsa). Padahal di sini juga nggak ada," ujar Puput.
Upah pengepakkan sendiri sebesar Rp 20-40 ribu per parsel. Harga keranjang parsel pun beranekaragam yang berkisar pada Rp 15 ribu-90 ribu.
(nia/dnl)











































