Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (6/9/2010) malam.
Menurut Rusman, defisit tidak perlu dipandang sebagai hal yang mengkhawatirkan karena harus dilihat dulu jenis barang yang masuk dari sisi impor. Jika yang masuk barang modal maka barang impor itu mampu menjadi investasi ke depannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rusman berharap defisit neraca perdagangan bisa terus diperkecil karena masih terdapatnya surplus dari ekspor non migas.
"Mudah-mudahan ini juga sifatnya sementara. Walaupun makin mengecil, surplus non migasnya masih ada," ujarnya.
Ia menilai defisit pada neraca perdagangan bulan Juli lalu hanya sebuah kasus sementara. Pasalnya, ekspor non migas Indonesia masih mengalami surplus, sedangkan ekspor migasnya yang menekan neraca perdagangan sehingga menyebabkan defisit.
Β
"Artinya, ketergantungan pada impor minyak jadi dan crude memang tinggi. Ada crude sedikit untuk kilang Cilacap. Jadi yang perlu kita dalami adalah migasnya yang defisit. Padahal di situ ada LNG yang kita ekspor. Ini memang luar biasa, benar-benar net importir," katanya.
Berdasarkan data BPS, Indonesia mengalami defisit pada neraca perdagangannya sebesar US$ 128,7 juta pada Juli 2010. Namun, secara kumulatif, neraca perdagangan masih surplus sebesar Rp 9,46 miliar.
Namun, Rusman memprediksi pada Agustus-September impor barang konsumsi akan meningkat sebagai bentuk antisipasi untuk bulan Puasa dan Lebaran.
"BPS mencatat, pasti akan kelihatan itu (kenaikan impor barang konsumsi). Makanya saya bilang, sebelum kita lihat angkanya, dugaan saya Agustus dan September itu impor barang konsumsi akan tinggi. Tapi mudah-mudahan yang bulan Juli kemarin itu kasus karena kita memang lagi bergairah, barang modal masuk untuk investasi," imbuhnya.
(nia/qom)











































