Satu aplikasi Twitter yang belakangan ini tengah hot adalah Twitter BFFs. Binatang apa itu? Ya, BFFs adalah aplikasi yang memungkinkan user di Twitter untuk mencari dengan otomatis (dan sedikit guyonan), siapa gerangan best friend forever (teman abadi) mereka di Internet.
Bagi anak muda, teman dan peer group begitu penting, karena mereka dianggap sebagai pribadi atau kelompok yang paling mengerti dan berempati pada hal-hal yang sedang mereka alami. Teman atau peer group sangat dibutuhkan saat mereka mencari jati diri, dalam proses anak muda memasuki gerbang kedewasaan.Β Β
Buat siapa saja yang pernah muda, pasti ingat betapa βrumitβnya hidup di masa transisi ini, banyak hal baru, yang dialami. Dari yang bersifat hormonal saja, sudah cukup merepotkan, karena banyak misteri baru disana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada masa transisi seperti ini, yang paling anak muda butuhkan adalah orang-orang yang mengerti, merasakan dan mengalami hal yang sama dengan mereka. Sehingga, ada yang bisa diajak berbagi dalam masa βkebingunganβ, dan bisa saling bertukar informasi.Β
Mengapa pada masa ini, anak muda tidak datang pada orang tua mereka? Karena orang tua dianggap tidak mengerti, bahkan seringkali malah dianggap sebagai βcommon enemyβ bagi mereka.Β Bila mereka ingin berbagi, menjadi agak sulit, karena umumnya rasa penasaran dan kebutuhan akan informasi, justru di topik-topik yang agak sensitive, seperti topik sex, misalnya.
Jadi tidak heran, bila akhirnya anak muda cenderung datang pada teman-temannya, pada kelompok sosialnya, atau yang biasa kita sebut dengan peer group. Biasanya kelompok sosial seperti ini, terdiri atas anak muda yang seumuran, dan memiliki kesamaan tertentu, Bisa values, bisa interest, bisa juga keduanya, yang akhirnya mengikat dan mempersatukan mereka. Kesamaan yang umum pada peer group; sebut saja sekolah, kelas, universitas, kompleks tempat tinggal, hobi dan lain sebagainya.
Positifnya, melalui peer group, anak muda bisa belajar bersosialisasi, belajar mengerti apa artinya persahabatan, solidaritas dan toleransi. Tapi sayangnya tidak hanya hal yang positif yang mereka dapatkan, karena sangat tergantung peer group mana yang mereka pilih.
Walaupun di dalam setiap peer group, kesamaan dan kesetaraan yang menjadi pemersatunya, tapi secara alami ditiap kelompok sosial manapun, akan ada pribadi-pribadi yang lebih dominan, yang biasanya memberikan influence besar terhadap DNA dari peer group itu sendiri.
DNA peer group akan bermetamorfosa menjadi bentuk yang lebih konkrit, yaitu aturan dan kode etik yang harus diikuti, yang sering kali menjadi βpeer presureβ bagi anggotanya. Contoh kasus yang paling banyak kita lihat adalah tawuran pelajar. Mereka dengan terpaksa, harus terlibat, harus berani, bahkan harus sadis, supaya diterima oleh teman satu sekolahnya. Bagi yang tidak mau terlibat, akan tertolak, dan dikucilkan, bahkan yang lebih parah, akan menjadi korban bullying rekan-rekannya.
Bentuk tekanan yang lain, mengharuskan anak muda, untuk merokok, minum minuman beralkohol, bahkan hingga mencoba yang namanya narkoba. Apakah selalu karena mereka menginginkannya? Belum tentu! Karena tidak sedikit justru melakukannya dengan sangat terpaksa, asalkan mereka tetap diterima oleh kelompoknya. Ini adalah proses confirm dan ignore, bila teman-teman dalam kelompok sosial tertentu merasa bahwa seseorang tidak memiliki kesamaan, maka pasti diignore. Tapi sebaliknya, bila dianggap memiliki banyak kesamaan, akan segera di confirm, menjadi bagian dari kelompoknya.Β Β
Cara yang dilakukan oleh Relaxa tepat sekali, lewat relaxazone.com, anak muda diarahkan untuk memiliki peer group yang positif.Β Disediakan chart untuk mengecek kecocokan antar anggotanya. Bahkan ada room Chare & Share buat anak muda bisa curhat dan berbagi informasi. Sungguh menarik bukan? Karena strategi yang dilakukan Relaxa, adalah bagian dari seni untuk masuk dan di confirm oleh komunitas anak muda.
Sebenarnya ketika berhubungan dengan anak muda, yang paling penting dilakukan adalah memahami mereka, berempati pada hal-hal mereka alami, mencoba untuk berdiri sejajar, tanpa menggurui, dan mengarahkan mereka pada peer group yang baik. Sayangnya banyak orang tua justru berusaha menghindarkan atau melarang mereka masuk dalam kelompok sosial tertentu, yang akhirnya justru kontra produktif, karena menjadikan anak muda lebih memberontak.
Bagi para brand, implikasi dari kupasan hasil riset mengenai pentingnya pertemanan dan peer group bagi anak muda ini sudah jelas. Sudah seharusnya mereka menjadi BFF-nya muda-mudi. Sudah siap?
Artikel ini ditulis berdasarkan analisa hasil riset sindikasi terhadap hampir 800 responden anak muda di 6 kota besar di Indonesia, SES A-B, Umur 16-35, yang dilakukan bulan Februari-Maret 2010 oleh MarkPlus Insight berkerjasama dengan Komunitas Marketeers.
*Join the conversation on www.the-marketeers.com atau di Twitter @the_Marketeers
(zar/zar)











































