Menurut salah satu staf Satuan Pengawas Intern PD Dharma Jaya Dahlan, sepinya masyarakat membeli daging murah di Kelurahan Klender karena dilakukan secara dadakan. Padahal dengan harga yang hanya Rp 52.000 dan Rp 55.000 per kg sangat membantu masyarakat.
"Tadi juga Pak Lurahnya mengakui kalau acara ini mendadak," katanya di kantor kelurahan Klender, Jakarta Timur, Selasa (7/9/2010)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kasihan kan warga cuma mau beli 1 kg saja harus nunggu sampai berjam-jam," katanya.
Daging sapi murah yang tadinya dialokasikan 1,9 ton untuk Keluruhan Klender hanya habis sebanyak 820 kg. Artinya kurang dari 50% yang terjual.
"Kalau tempat kami biasa jual daging murah di Balai kota, bisa sampai 3 ton per hari karena warga sudah tahu," katanya.
Walhasil, ia dan rekannya harus menutup pasar murah daging hanya hingga pukul 10:30 WIB.
Sementara itu Ibu Anis dari Duren Sawit harus gigit jari karena daging sapi murah yang idam-idamkan tak jadi dibeli. Pasalnya, ketika ia datang, gelar pasar murah sudah dihentikan.
Hal yang sama pun dialami oleh Atun dan Sastik, kedua warga Klender mengaku tidak tahu menahu adanya pasar murah daging. Hasilnya ia tertinggal untuk membeli daging sapi murah meriah untuk lebaran.
(hen/dnl)











































