"Kami masih dalam tahap evaluasi. Karena kalau dengan kondisi saat ini lapangan itu kurang ekonomis jika dikembangkan," President Santos Indonesia Marjolijn WajongΒ usai acara penandatanganan perjanjian agen pembayaran transaksi penjualan gas dari blok Madura Offshore di Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (7/9/2010).
Dalam melakukan evaluasi itu, lanjut Marjolijn, pihaknya juga tengah berkoordinasi dengan badan pelaksana kegiataan hulu minyak dan gas bumi (BP Migas) untuk menentukan langkah selanjutnya soal lapangan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga belum dapat memastikan apakah perseroan akan mengembalikan pengelolaan lapangan itu ke pemerintah atau tidak. "Itu akan dibicarakan juga dengan BP Migas," tuturnya.
Marjolijn berharap evaluasi tersebut bisa selesai pada pertengahan tahun ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Humas dan Hubungan Kelembagaan BP migas, Elan Biantoro memperkirakan alokasi dana yang sudah dikucurkan Santos untuk Lapangan Jeruk tersebut mencapai US$ 80-90 juta.
"Dana itu tidak hanya untuk survei seismik, tapi juga untuk mengebor sekitar dua sumur dan lain-lain," katanya.
Elan menambahkan, Santos sendiri tidak bisa mundur dari pengelolaan lapangan Jeruk karena lapangan itu merupakan bagian dari Blok Sampang yang sudah dikembangkan oleh perusahaan tersebut.
"Lapangan Oyong yang sudah ada di blok Sampang juga kan sudah berproduksi. Jadi mereka tidak boleh pull out karena mereka sudah mendapatkan keuntungan dari lapangan Oyong. Paling pengembangan blok tersebut akan di-pending dulu atau dicari cara lain agar lapangan ini bisa ekonomis," paparnya.
Santos merupakan operator di lapangan Jeruk dengan memegang saham sebesar 45%, sedangkan sisanya dimiliki oleh Singapore Petroleum Sampang Ltd (SPC) (40%) dan Cue sampang Pty Ltd (15%).
Lapangan jeruk terletak di Blok Sampang, lepas pantai Jawa Timur, sekitar 42 kilometer sebelah timur Surabaya.
(epi/dnl)











































