"Total belanja ritel modern diprediksi mencapai Rp 100 triliun tahun ini, sebanyak Rp 65 triliun merupakan belanja makanan dan sisanya Rp 35 triliun non makanan," ujar Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta dalam siaran pers PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), Kamis (9/9/2010).
Menurut Tutum, peningkatan belanja ritel modern salah satunya ditopang oleh industri hipermarket yang saat ini mewabah. Ia mengatakan, industri hipermarket menguasai pangsa pasar sekitar Rp 35 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tutum mengatakan, pertumbuhan industri hipermarket sejalan dengan pertumbuhan kota. Pada Januari-Mei 2010, total pendapatan ritel modern mencapai Rp 44,6 triliun, naik 9%.
"Pertumbuhan ini digerakkan oleh pemain hipermarket besar yang mencetak pertumbuhan 18%. Pertumbuhan kuartal 3 dan 4 diprediksi akan terdongkrak dengan adanya Lebaran, sehingga total tahun ini ritel bisa tumbuh 12-15%," jelas Tutum.
PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) sebagai salah satu pemain hipermarket dengan merek dagang Hypermart berencana mengembangkan usahanya di sektor ini. Untuk itu, perseroan menggandeng Merrill Lynch (Singapore) Pte Ltd sebagai penasihat keuangan untuk melakukan analisis strategis terhadap potensi pasar Hypermart.
Pada tahun 2010, MPPA menargetkan penjualan dari divisi makanan (yang mengoperasikan food dan foodmart) sebesar Rp 7,5 triliun. Untuk tahun 2011 sebesar Rp 9,8 triliun. Proyeksi EBITDA perseroan sebesar Rp 400 miliar di 2010 dan Rp 620 miliar di 2011.
Â
Â
(dro/dro)










































