PTBA Tambah Pasokan Batubara 14,5 Juta Ton ke PLN

PTBA Tambah Pasokan Batubara 14,5 Juta Ton ke PLN

- detikFinance
Kamis, 16 Sep 2010 13:11 WIB
Jakarta - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan menambah pasokan batubara sebesar 14,5 juta ton per tahun ke PT PLN (Persero) secara bertahap mulai tahun depan. Lama kontrak baru tersebut selama 20 tahun.

“Itu secara bertahap. Mulai tahun 2011 sampai 2014 nanti, tambahannya mencapai 14,5 juta per tahun,” kata Direktur Utama PTBA Soekrisno di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (16/9/2010).

Rencananya, penandatanganan kontrak baru tersebut  akan dilakukan pada tanggal 23 September mendatang.  Kontrak itu akan berlaku selama 20 tahun dengan harga yang disesuaikan dengan harga pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kontraknya itu rencananya 20 tahun. Sehingga PLN lebih secure. Dan itu masih belum tertutup misalnya PLN mau tambah, bisa saja,” jelasnya.

Soekrisno menyatakan, saat ini  PTBA telah menyuplai batubara ke pembangkit-pembangkit milik PLN sebanyak 8  juta ton per tahun, sehingga kalau ditotal pasokan BUMN batubara tersebut ke perusahaan listrik pelat merah itu mencapai 22,5 juta ton per tahun pada tahun 2014.

Sementara itu, Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan memperkirakan kebutuhan batubara untuk pengoperasian  pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) pada tahun 2015  akan mencapai 70 juta ton batubara setiap tahunnya.

Dari total kebutuhan tersebut, ia mengharapkan sekitar 20 juta ton per tahun  berasal dari PTBA , sementara sisanya dari pemegang izin kuasa pertambangan (KP) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).

“20 juta ton per tahun itu kalau bisa dikirim pada 2015. Pada saat itu nanti keperluan PLN sudah 70 juta ton per tahun,” ujar Dahlan.

Dahlan menyatakan rencananya kerjasama tersebut akan ditandatangani dalam waktu dekat. Ia mengatakan dirinya akan berupaya agar PLN  bisa mendapat pasokan tersebut daripada batubara itu diekspor ke India.

“PTBA ini mau mengirim batu bara sampai 60 juta ton ke India. Itu kan kurang baik, harusnya ada untuk dalam negeri. Jadi ada baiknya 20 juta ton untuk PLN, baru yang 40 juta ton ke India,” jelasnya.
(epi/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads