Vice President Corporate Communication Pertamina, M Harun mengatakan, Pertamina hanya membidik 50% konsumen yang beralih mengingat saat ini persaingan dengan SPBU swasta cukup ketat.
"Kalau kita bisa ambil 50% sudah bagus. Sekarang SPBU swasta kan juga banyak. Sekarang saja mereka penjualannya sudah meningkat. Tapi Pertamina tidak masalah karena yang terpenting bagaimana program ini bisa diterapkan dengan baik di masyarakat," urai Harun di Gedung Patra Jasa, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (20/9/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentunya kalau penjualan Pertamax naik, itu akan menguntungkan Pertamina juga," ujarnya.
Menurut Harun, saat ini realisasi penjualan BBM non subsidi Pertamina memang sangat rendah. Rata-rata penjualan Pertamax Cs sekitar 2.000 kiloliter (KL). Sementara konsumsi BBM bersubsidi yang dijual di SPBU Pertamina mencapai 63.000 KL per hari.
"Ini kan jauh banget kalau bisa ditingkatkan," ungkapnya.
Ia menambahkan, kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi tersebut tidak hanya menguntungkan Pertamina, namun juga para kompetitor Pertamina termasuk operator SPBU asing yang ada di Indonesia.
"Buat Pertamina penjualan Pertamax akan menguntungkan. Tapi yang untungkan tidak hanya Pertamina. Kompetitor kita juga akan mendapatkan keuntungan dari kebijakan ini," paparnya.
Hingga kini Harun belum mengetahui berapa besar kenaikan konsumsi BBM non bersubsidi setelah kebijakan ini diterapkan. Lonjakan konsumsi tersebut baru akan terlihat 1-2 hari setelah kebijakan ini diterapkan.
(epi/qom)











































