Cuaca ekstrim yang melanda berbagai negara di dunia termasuk Indonesia, menjadi indikator terhadap masalah pangan yang serius dikemudian hari.
"FAO sudah ingatkan bahwa persoalan pangan akan jadi ancaman di masa mendatang. Anggota-anggota FAO disarankan memperkuat ketahanan pangannya," kata Menteri Pertanian Suswono di kantornya, Ragunan, Jakarta, Senin (20/9/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah La Nina (basah) ekstrim, diperkirakan akan ada El Nino ekstrim (kering)," katanya.
Mengenai pasokan beras, ia menyatakan sampai saat ini belum ada instrumen yang pasti untuk menghitung berapa jumlah beras yang beredar di masyarakat. Ia pun membuka diri jika memang ada potensi impor beras oleh Bulog, dalam rangka menjaga ketahanan pangan di Tanah Air, maklum saja serapan Beras Bulog sampai saat ini masih minim.
Ia juga menepis anggapan jika ada tindakan impor beras maka label swasembada beras akan tercoreng. Menurutnya sesuai refrensi FAO jika sebanyak 90% kebutuhan pangan (beras) masih dipenuhi dari dalam negeri maka negara bersangkutan masih berkatagori swasembada.
Misalnya jika selama ini kebutuhan beras nasional per tahunnya mencapai 34 juta ton beras, maka jika dihitung sebesar 10%, ada 3,4 juta ton beras. Jika dibawah angka 3,4 juta ton tersebut dipenuhi dari impor maka katagori sebagai negara swasembada beras tak akan terhapus.
(hen/qom)











































