Pemerintah jangan lagi menaikkan tarif dasar listrik (TDL) di tahun 2011, karena hal ini makin memberatkan masyarakat dan dunia usaha. Seharusnya pemerintah memfokuskan efisiensi di tubuh PLN sehingga kenaikan TDL terhindari.
Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi VII dari FPKS Achmad Rilyadi dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Kamis (23/9/2010).
"Pemerintah mewacanakan kenaikan TDL 15% mulai Januari 2011 dengan alasan menutupi anggaran subsidi yang hanya Rp 36,44 triliun. Sementara anggaran subsidi yang dibutuhkan apabila TDL tidak dinaikkan akan sebesar Rp 49,14 triliun, sehingga ada selisih (gap) sebesar Rp 12,7 triliun," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenaikan ini sama saja dengan menyerahkan permasalahan dan inefisiensi yang dialami oleh PLN dibebankan kepada rakyat dengan cara menaikkan TDL," katanya.
Rilyadi mengatakan, PLN berpeluang menghemat biaya operasional Rp 60 triliun melalui program peningkatan efisiensi sistem ketenagalistrikan dan transformasi kinerja operasional pada 2010-2015.
"Artinya PLN berpeluang untuk menghemat biaya operasional Rp 12 triliun per tahun," jelasnya.
Menurutnya, selama ini inefisiensi PLN masih tinggi, pada tahun 2009 PLN mengalami susut transmisi dan distribusi sebesar 9,93%, dan berpotensi meningkat di 2010 ini. Selain itu pembangkit-pembangkit listrik PLN juga banyak yang tak efisien.
"Berdasarkan buku putih PLN tahun 2010, peluang penghematan di sisi pembangkit melalui peningkatan efisiensi dan optimalisasi operasional dan manajemen adalah Rp 25-28 triliun," jelasnya.
Rilyadi menilai, selama ini tingkat belanja energi primer PLN terlalui boros. Data-data PLN 2009 menunjukkan tingkat bauran energi (energy mix) PLN masih belum maksimal.
Berdasarkan Laporan Tahun PLN tahun 2009, PLN masih mengkonsumsi sebanyak 22,06% energi jenis BBM untuk membangkitkan listrik. Sementara, konsumsi batubara yang sangat besar potensinya secara nasional dan juga lebih murah di bandingkan BBM baru sebesar 27,51%.
Kemudian, berdasarkan data PLN 2010, total belanja energi primer PLN tahun 2009 adalah sebesar Rp 76,24 triliun. Dari total belanja tersebut, biaya terbesar dialokasikan untuk pembelian BBM, yaitu sebesar Rp 47,97 triliun atau 64%, kemudian diikuti oleh pembelian batubara sebesar 13,81 triliun (18%), dan gas Rp 9,97 triliun (13%).
"Apabila PLN dapat mengoptimalkan bauran energi primernya, terutama memaksimalkan penggunaan batubara, gas, dan panas bumi, maka potensi penghematan yang dapat diraih oleh PLN adalah sebesar Rp 22-26 triliun," tukasnya. (dnl/ang)











































