Menurut Direktur Keuangan Pertamina M Afdal Bahaudin, penetapan target laba bersih perseroan dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) tahun 2010 sebesar Rp 25 triliun ditetapkan dengan asumsi Pertamina mendapatkan margin dari pendistribusian BBM bersubsidi sebesar Rp 100 per liter dari alpha yang diusulkan Rp 656 per liter.
Target laba bersih itu juga dapat dicapai jika harga elpiji 12 kg dan 50 kg diperbolehkan untuk naik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain tidak ada margin, potensi kerugian lain dari pendistribusian BBM bersubsidi berasal dari adanya pembengkakan konsumsi BBM bersubsidi di masyarakat.
"Fakta di lapangan diperkirakan akan kelebihan kuota (overquota) karena dari sisi konsumsi tidak bisa ditahan. Kerugiannya kami estimasikan sekitar Rp 3 triliun," katanya.
Begitupun dengan rencana kenaikan harga elpiji 12 kg dan 50 kg yang belum dilakukan perseroan sehingga kerugian yang harus ditanggung Pertamina sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai Rp 3,2 triliun.
"Harganya itu kan tidak disubsidi pemerintah tapi disubsidi oleh Pertamina, pasti ada koreksi. Prognosa kami kerugian yang harus ditanggung Pertamina untuk elpiji ini saja sekitar Rp 3,2 triliun," paparnya.
Hal ini diamini oleh Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan. Menurut dia, kerugian Pertamina dalam kegiatan hilir (downstream) perseroan telah membuat laba dari kegiatan hulu (upstream) tergerus.
"Padahal kalau dari hulu, profit unaudited-nya mencapai Rp 19 triliun, tapi karena hilirnya rugi jadi terpotong. Laba bersih hulu capai Rp 19 triliun itu kan karena produksinya naik sehingga semakin tinggi lifting-nya," tambahnya.
(epi/dnl)










































