Hal ini disampaikan oleh Agus saat ditemui di Seminar JICA, Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (28/9/2010).
"Meskipun Komisi VII tidak setuju (kenaikan TDL), kita akan tetap berusaha untuk meyakinkan Badan Anggaran (Banggar). Kalau TDL tidak dinaikkan maka anggaran akan meningkat subsidinya dan memberikan risiko fiskal," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita akan tetap memeprhatikan rakyat yang perlu perhatian dengan cara bantuan langsung, BOS, PNPM, Raskin. Tetapi untuk subsidi yang kemudian dinikmati seluruh masyarakat, termasuk yang berpenghasilan tinggi, maka itu harus kita atasi. Kita lakukan konkret action untuk mengatasi itu," katanya.
Jika rencana kenaikan TDL ini digagalkan oleh DPR, maka pemerintah akan terpaksa menekan anggaran dan juga menaikkan losses (kehilangan) listrik. Bahkan pemerintah tak segan untuk memangkas anggaran Kementerian/Lembaga yang dianggap tak perlu untuk menutupi subsidi listrik.
Sebelumnya Bank Dunia menyarankan pemerintah Indonesia untuk menaikkan TDL di 2011.
Pasalnya, menurut Ekonom Senior Bank Dunia untuk lndonesia Enrique Blanco Armas, saat ini Indonesia menjadi negara kedua yang menjual listrik paling murah, sekitar 7 sen US$ per Kwh. Posisi pertama listrik murah dipegang oleh India sebesar 6 sen US$ per Kwh.
(dnl/qom)











































