"Kalau seandainya TDL tidak disetujui untuk dinaikkan maka kita harus bertanya apakah tidak dinaikkan untu semua ataukah secara selektif masih bisa dinaikkan. Kami merekomen harus ada kenaikan tapi memang selektif," ujarnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (29/9/2010).
Menurut Agus Marto, kenaikan TDL secara selektif ini bisa dilakukan agar pemerintah tidak perlu menambah anggaran untuk subsidi listrik sebesar Rp 12 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nilai penghematan tersebut akan bertambah menjadi Rp 15 triliun jika pemerintah mampu mendapatkan energi lain untuk pembangkit listrik.
"Tetapi kalau kita dapat memperoleh input bagi prosesing pembangkit tenaga listrik itu mungkin bisa membuat kita menghemat 15 triliun kalau kita mendapatkan gas. Oleh karena itu, ini adalah koordinasi yang harus dilakukan dan kegiatan fokus bersama untul bisa memperbaiki sistem kelistrikan kita," jelasnya.
Selain adanya sumber energi pengganti BBM, Agus Marto menyebutkan ada beberapa upaya dalam menjaga subsidi listrik agar tidak naik tanpa adanya kenaikan TDL. Caranya dengan melakukan efisiensi kinerja PLN dan megurangi loses.
"TDL, kalau seandainya tidak dilakukan kenaikan itu kan tentu akan jadi satu basis diskusi jadi kalau tidak dinaikkan kita mesti nyari bentuk yang bisa dilakukan untuk supaya subsidi tidak naik, misalnya kita memperoleh gas untuk dipakai untuk input bagi pembangkit tenaga listrik dan itu bisa membuat penghematan," jelasnya.
"Kemudian yang kedua adalah misalnya apa yang bisa diefisiensi oleh PLN yaitu mengurangi losses dan mengurangi penyusutan atau memperbaiki sistem dan kita juga ingin supaya proyek 10 ribu megawatt cepat selesai sehingga kita cukup menggunakan bat bara tidak perlu menggunakan BBM. Itu yang sedang kita diskusikan dengan Banggar," imbuh mantan Dirut Bank Mandiri itu.
(nia/qom)











































