Neraca perdagangan Republik Indonesia (RI) bulan Agustus mengalami surplus US$ 1,49 miliar. Angka ini melesat tajam dibandingkan neraca perdagangan RI selama Juli yang mengalami defisit US$ 128,7 juta.
Menurut Kepala BPS Rusman Heriawan, pada bulan Agustus 2010, RI mencatat ekspor tertinggi sepanjang sejarah yaitu USD$ 13,71 miliar. Sementara nilai impornya mencapai US$ 12,22 miliar.
"Ini mematahkan panndangan bahwa defisit perdagangan kita masih akan terus berlanjut. Defisit kita itu belum struktural, jadi kita masih nett exporter. Wajar saja kalau dalam jangka waktu tertentu ada defisitnya," katanya dalam jumpa pers di kantornya, Jalan DR Soetomo, Jakarta, Jumat (1/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekspor ini dengan rekor tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia. Sebelumnya diraih pada bulan Desember 2009 yaitu sebesar US$ 13,35 miliar. Ini masih rendah dibandingkan yang bulan Agustus ini," ujarnya.
Rusman menyebutkan, ekspor Indonesia bulan Agustus ini masih didominasi dari ekspor non migas yang naik 10,94% dibanding Juli 2010. Lemak dan minyak hewan/nabati memiliki nilai ekspor sebesar US$ 1,1 miliar. Sedangkan bijih, kerak dan abu logam turun dengan nilai US% 80 juta.
Ekspor non migas tertinggi masih didominasi negara Jepang yang mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,4 miliar, disusul Cina US% 1,24 miliar, dan Amerika Serikat sebesar US$ 1,14 miliar dengan kontribusi ketiga negara mencapai 32,17%. Semetara ekspor ke Uni Eropa sebesar US$ 1,62 miliar.
"Agustus, ekspor ke Cina menempati urutan kedua. Biasanya kan Jepang, US, Cina tapi bulan Agustus ini Cina naik 35% jadi urutan kedua," jelasnya.
Rusman menyatakan kenaikan ekspor tersebut karena adanya peningkatan ekspor batu bara. Selain itu, adanya kenaikan harga CPO.
Sementara mengenai impor, pada bulan Agustus 2010 nilainya mencapai US$ 12,22 miliar turun 3,21% dibandingkan Juli 2010 yang besarnya US$ 12,63 miliar. Secara tahunan mengalami peningkatan 25,89%.
Juga secara kumulatif dari Januari-Agustus sebanyak US$ 87,78 miliar, naik 46,87% jika dibandingkan periode yang samaΒ tahun lalu.
Ia menambahkan, impor non migas di Agustus 2010 mencapai US$ 10,01 miliar, turun US$ 0,5 miliar atau 4,79% dibandingkan impor Juli 2010. Secara Januari-Agustus mencapai US$ 70,35 miliar, naik 43,56% dibandingkan tahun 2009.
"Impor migas Agustus 2010 sebanyak US$ 2,21 miliar atau naik US$ 0,1 miliar atau 4,69% dari bulan Juli. Selama Januari-Agustus mencapai US$ 17,44 miliar atau naik 61,96% dibandingkan tahun sebelumnya," jelasnya.
Menurut Rusman, nilai impor non migas terbesar yaitu di golongan barang mesin atau peralatan mekanik senilai US$ 1,82 miliar, turun 6,54% diabndingkan Juli. Sedangkan selama Januari-Agustus nilainya naik 37,06% dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama.
"Negara pemasok barang impor non migas terbesar selama Januari-Agustus masih dipegang oleh China dengan nilai US$ 12,89 miliar dan pangsa 18,32%," ujarnya.
(ang/qom)











































