Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jateng, Djoko Santoso mengatakan sepanjang tahun 2010 pengusaha pertekstilan nyaris tak pernah sepi dari goncangan. Jika pada paruh pertama 2010 harus bertahan dari dampak harga minyak dunia yang tidak menentu, pada paruh keduanya harus menghadapi situasi buruk akibat kenaikan harga bahan baku tersebut.
Negara-negara penghasil utama kapas kualitas bermutu seperti China dan Pakistan saat ini sedang dirundung berbagai bencana terutama banjir bandang akibat anomali cuaca global. Situasi itu langsung berdampak pada perdagangan kapas dunia. China dan Pakistan selama ini memang dikenal penghasil kapas terbaik dunia, selain Amerika Serikat dan Kanada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga kapas akhirnya berdampak pula pada kenaikan harga tekstil dan produk tekstil. Rata-rata kenaikan sekitar 10 hingga 20 persen. Harga benang juga naik dari Rp 6,2 juta per bale, menjadi Rp 6,9 juta per bale. Demikian juga harga kain mengalami kenaikan kain.
"Ini situasi amat berat bagi pengusaha tekstil. Pengusaha tidak bisa melakukan apa-apa karena ini persoalan alam. Yang bisa dilakukan hanya mengambil langkah slow down dan menekan keuntungan bahkan hingga pada angka nol untuk tetap bertahan. Tapi kami hanya berharap jangan sampai ada penutupan perusahaan," ujar Djoko yang juga Direktur PT Danliris, Solo, tersebut.
(mbr/dnl)










































