"Konsumsinya sebaiknya beralih ke umbi-umbian ke sukun, ganyong, dan lain-lain," kata Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Mulyono Machmur di kantor Kementerian Kominfo, Jakarta, Selasa (12/10/2010)
Mulyono beralasan peralihan konsumsi makan nasi sudah jelas sangat penting agar ada diversifikasi pangan di Indonesia. Namun jika diversifikasi itu justru beralih ke makanan mi instan itu juga hal yang keliru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengharapkan selain mengurangi nasi, konsumsi makan mi pun harus disubsitusi dengan pangan lainnya yang bisa dipenuhi dari dalam negeri seperti tepung-tepungan lokal. Pasalnya, bahan baku mi instan yaitu gandum saat ini 100% merupakan barang impor.
"Kita prihatin, impor (gandum) kita sudah 6 juta ton per tahun. Dari sisi harga pada tahun 2007 harga gandum masih US$ 108 per ton, sekarang sudah US$ 350 per ton," katanya.
Kekhawatiran ini kata dia cukup beralasan, informasi adanya lonjakan harga gandum tahun depan hingga naik 6 kali lipat perlu menjadi kewaspadaan. Merosotnya produksi gandum terutama dari Rusia patut dipertimbangkan pula.
"Imbauan kita mi harus disubtitusi," ujarnya.
(hen/dnl)











































