Masyarakat Diminta Rem Konsumsi Mi Instan dan Nasi

Masyarakat Diminta Rem Konsumsi Mi Instan dan Nasi

- detikFinance
Selasa, 12 Okt 2010 13:47 WIB
Masyarakat Diminta Rem Konsumsi Mi Instan dan Nasi
Jakarta - Pemerintah tengah mengkampanyekan gerakan mengurangi konsumsi makan nasi oleh masyarakat. Bahkan bukan hanya itu saja, kegandrungan masyarakat dengan mi instan saat ini juga harus dikurangi.

"Konsumsinya sebaiknya beralih ke umbi-umbian ke sukun, ganyong, dan lain-lain," kata Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Mulyono Machmur di kantor Kementerian Kominfo, Jakarta, Selasa (12/10/2010)

Mulyono beralasan peralihan konsumsi makan nasi sudah jelas sangat penting agar ada diversifikasi pangan di Indonesia. Namun jika diversifikasi itu justru beralih ke makanan mi instan itu juga hal yang keliru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi kalau ada yang larinya ke mi instan itu keliru, memang dengan Rp 2.000 saja, makan mi orang sudah bisa sarapan," katanya.

Ia mengharapkan selain mengurangi nasi, konsumsi makan mi pun harus disubsitusi dengan pangan lainnya yang bisa dipenuhi dari dalam negeri seperti tepung-tepungan lokal. Pasalnya, bahan baku mi instan yaitu gandum saat ini 100% merupakan barang impor.

"Kita prihatin, impor (gandum) kita sudah 6 juta ton per tahun. Dari sisi harga pada tahun 2007 harga gandum masih US$ 108 per ton, sekarang sudah US$ 350 per ton," katanya.

Kekhawatiran ini kata dia cukup beralasan, informasi adanya lonjakan harga gandum tahun depan hingga naik 6 kali lipat perlu menjadi kewaspadaan. Merosotnya produksi gandum terutama dari Rusia patut dipertimbangkan pula.

"Imbauan kita mi harus disubtitusi," ujarnya.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads