"Dalam pertemuan tahunan Bank Dunia dan IMF (Dana Moneter Internasional) lalu, paling banyak dibahas mengenai nilai tukar, terutama terkait China dengan kebijakan renimbi," ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo saat ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (12/10/2010).
Agus menyatakan pembahasan mengenai kebijakan nilai tukar China, tidak lagi dilakukan dalam forum terbatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara yang paling gencar memaksa China, lanjut Agus adalah AS. Hal tersebut disebabkan nilai tukar yuan yang terus dibuat melemah sangat mempermudah penetrasi
produk China. Oleh karena itu, AS bahkan berencana akan mengenakan sanksi formal kepada China apabila nilai tukar yuan terus melemah.
Dengan 'tekanan' yang semakin besar, China akhirnya sedikit melunak dengan mulai mengendurkan intervensinya terhadap yuan. "Namun, China mengatakan bahwa prosesnya akan dilakukan secara bertahap, tidak bisa drastis," jelas Agus.
Kemudian, Agus juga mengemukakan pendapat seputar pergerakan nilai tukar rupiah terkini. Dia menilai tren nilai tukar rupiah pada level 8.900 per dolar AS hanyalah fenomena temporer sehingga potensi koreksi cukup terbuka. Sampai akhir tahun, Agus yakin nilai tukar rupiah akan kembali ke level 9.000 per dolar AS.
"Masuknya dana dari luar membuat kita punya currency cenderung menguat dan indeks pasar modal meningkat. Likuditas kita juga tinggi. Namun semua ini sifatnya temporer saja," tandasnya.
(nia/dnl)










































