Jika kampanye ini bisa sukses dilakukan setiap satu bulan satu hari saja, maka konsumsi beras nasional per tahun bisa dihemat hingga 1,2 juta ton.
"Jadi kalau ada 1 free rice day saja per bulan, akan mengurangi tekanan permintaan 1,2 juta ton per tahun," kata Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi kepada detikFinance, Rabu (13/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah itu termasuk konsumsi nasi atau lontong atau ketupat, dirumah, direstoran, di warung. Selain itu ada juga dalam bentuk snack seperti lemper, bacang, arem-arem atau industri olahan seperti kue-kue dari tepung beras.
"Kalau konsumsi dalam bentuk nasi saja mencapai sekitar 105 kg/kap/tahun. Bandingkan dengan rakyat di negara-negara pemakan nasi seperti Jepang sekitar 70kg/kap/tahun, China sekitar 90-100kg/kapita/tahun," terang Bayu.
Dikatakannya besarnya konsumsi per kapita itu membuat tekanan kebutuhan beras nasional sangat tinggi. Menurut Bayu konsumsi beras seluruh Indonesia perhari saja sudah sekitar 100 ribu ton.
Seperti diketahui pemerintah tengah mengkampanyekan mengurangi konsumsi nasi masyarakat dengan kampanye satu hari tanpa nasi atau one day no rice. Di berbagai daerah gerakan one day no rice sudah bergulir selama setahun ini seperti di NTT, NTB, Sulut, Maluku Utara, Sumatera.
Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Mulyono Machmur mengatakan gerakan mengurangi makan nasi merupakan bagian upaya pemerintah mensukseskan diversifikasi pangan nasional. Hal ini agar ketergantungan pangan pada nasi/beras tidak terlalu tinggi sehingga stabilitas pangan bisa tetap terjaga.
Mulyono menuturkan pada era tahun 1950-60-an ketergantungan pangan masyarakat Indonesia pada nasi atau beras masih sebesar 53%, namun kini ketergantungan itu semakin tinggi hingga 92-95%.
"Kita inginnya kampanye ini akan berskala nasional, sekarang masih di level bawah dahulu dimulai dari pemda-pemda," kata Mulyono kemarin.
(hen/qom)










































