Hal ini disampaikan oleh Mantan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudhohusodo kepada detikFinance, Rabu (13/10/2010).
"Itu cuma kampanye lucu-lucuan. Kalau beras mau diganti gandum, gandum itu tidak bisa diproduksi di tanah air kita, jadinya selama ini kita malah impor gandum. Jadi jika pemerintah mendorong pengurangan konsumsi beras, itu sama saja mendorong makin besarnya impor gandum ke Indonesia," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui pemerintah tengah mengkampanyekan mengurangi konsumsi nasi masyarakat dengan kampanye 'Sehari Tanpa Nasi' atau 'One Day No Rice'. Di berbagai daerah gerakan 'One Day No Rice' sudah bergulir selama setahun ini seperti di NTT, NTB, Sulut, Maluku Utara, Sumatera.
Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Mulyono Machmur mengatakan gerakan mengurangi makan nasi merupakan bagian upaya pemerintah mensukseskan diversifikasi pangan nasional. Hal ini agar ketergantungan pangan pada nasi/beras tidak terlalu tinggi sehingga stabilitas pangan bisa tetap terjaga.
MulyonoΒ menuturkan pada era tahun 1950-60-an ketergantungan pangan masyarakat Indonesia pada nasi atau beras masih sebesar 53%, namun kini ketergantungan itu semakin tinggi hingga 92-95%.
"Kita inginnya kampanye ini akan berskala nasional, sekarang masih di level bawah dahulu dimulai dari Pemda-Pemda," kata Mulyono kemarin.
(dnl/qom)











































