Program diversifikasi pangan yang salah satunya melalui kampanye 'One Day No Rice' atau sehari tanpa nasi benar-benar tidak mudah. Hal ini setidaknya dialami oleh pengusaha kue olahan berbasis bahan baku tepung ganyong dan singkong.
Sri Murtiningsih pemilik Hanah Cake and Cookies yang sudah beberapa tahun mengembangkan bisnis kue brownies dan kue kering berbahan baku tepung singkong dan ganyong mengaku kesulitan menjual produknya.
"Menurut saya 'One Day No Rice' masih berat karena belum ada pemahaman masyarakat terhadap produk karbohidrat alternatif selain beras," kata Sri saat ditemui di sela-sela Pameran Pangan Nusa JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (13/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pengalamannya, masyarakat sudah mengakui citarasa produk tepung ganyong dan singkong dengan tepung beras ataupun terigu tak kalah lezat di lidah. Namun ada saja alasan yang tak berkenan seperti harga yang dianggap lebih mahal.
"Umumnya mereka membeli karena masih melihat keunikannya saja kalau ada brownies dari singkong, tapi bukan berdasarkan kebutuhan. Jadinya pemasaran kita masih sulit," terangnya.
Ia menambahkan, dari sisi harga sebenarnya bahan baku tepung ganyong dan singkong tidak jauh berbeda dengan tepung terigu maupun beras. Namun karena pemahaman masyarakat yang kurang apresiasi terhadap pangan alternatif, bahan baku ganyong dan singkong masih dipandang sebelah mata.
"Sekarang ini usaha saya masih hanya sesuai order. Sebulan kadang-kadang sepi, kadang-kadang ramai," jelasnya.
Sri menjelaskan, dari sisi harga produk jadi, produk kue kering dan brownies berbahan baku ganyong dan singkong tak kalah kompetitif. Misalnya kue kering bahan baku ganyong dihargai Rp 45.000 per toples dan brownies dihargai Rp 20.000-40.000 per bungkus. (hen/ang)











































