Freeport juga mengembangkan konsep dusun sagu tanam seluas 85 hektar di Nayaro untuk masyarakat Suku Kamoro Timika.
Staf Community Development PT Freeport Indonesia Yahya Alkatiri mengungkapkan bahwa langkah perseroan mengembangkan lahan sagu di lokasi yang berbeda itu untuk menjamin ketahanan pangan khususnya bagi masyarakat di sekitar wilayah kerja Freeport.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau yang di sirsat itu tujuannya untuk research, ternyata (sirsat) bisa ditanami sagu. Ini yang berkaitan dengan reklamasi tambang," kata Yahya disela-sela acara seminar dan lokakarya nasional sagu di Bogor, Jawa Barat, Kamis (14/10/2010).
Sementara untuk dusun sagu tanam seluas 85 hektar, pihak Freeport menyediakan bibit unggul sagu yang di beli dari Jayapura ke kampung Nayaro. Untuk kemudian ditanam para penduduk lokal di kampung Nayaro.
"Ini untuk sumber pangan bagi Suku Kamoro yang menjadi binaan kami, dimulai tahun 2007, selesai penanaman 2009. Bukan kami yang menanam mereka terlibat dalam penanaman," katanya.
Yahya menambahkan selain merangkul Suku Kamoro, pihaknya juga melibatkan Universitas Negeri Papua, Keuskupan Timika, dan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Mimika.
Warga Suku Kamoro yang dilibatkan mencapai 141 kepala keluarga, di mana setiap kepala keluarga mendapatkan lahan 0,6 hektar dari 85 hektar yang tersedia. Dimana hasilnya seluruhnya akan digunakan oleh masyarakat sekitar.
Penanaman pohon sagu di kampung Nayaro dimulai sejak 2007 dan diperkirakan baru dapat dipanen pada 2015.
"Keterlibatan masyarakat sangat besar dalam hal pemeliharaan, mereka biasa memandang sagu dibiarkan saja tumbuh sendiri, padahal perlu dipelihara ini menyangkut produktivitas sagu," ujarnya.
Menurut Yahya berdasar hasil penelitian dari Univeritas Negeri Papua satu pohon sagu unggulan mampu memproduksi 500-800 kg tepung sagu basah, sementara pohon sagu non unggulan hanya menghasilkan 150-300 kg.
"Potensi produksi 30 ton per hektar setara tepung basah," jelasnya.
Ia menuturkan saat ada kekhawatiran mengenai konsumsi sagu di Papua, pasalnya generasi muda disana terutama perkotaan sudah lebih memilih nasi sebagai makanan pokoknya. Selain itu produksi pohon sagu alam cenderung memiliki produktivitas rendah.
Harga tepung sagu basah di Mimika pun cukup tinggi saat yaitu setiap 20 Kg dihargai Rp 200.000.
(hen/qom)










































