Freeport Kembangkan Hektaran Lahan Sagu di Papua

Freeport Kembangkan Hektaran Lahan Sagu di Papua

- detikFinance
Kamis, 14 Okt 2010 16:02 WIB
Freeport Kembangkan Hektaran Lahan Sagu di Papua
Bogor - PT Freeport Indonesia mengembangkan penelitian tanaman sagu di lokasi lahan pasir sisa tambang (sirsat) milik Freeport seluas 2 hektar di Kali Kopi Mimika dan 0,25 hektar di lokasi lainnya.

Freeport juga mengembangkan konsep dusun sagu tanam seluas 85 hektar di Nayaro untuk masyarakat Suku Kamoro Timika.

Staf Community Development PT Freeport Indonesia Yahya Alkatiri mengungkapkan bahwa langkah perseroan mengembangkan lahan sagu di lokasi yang berbeda itu  untuk menjamin ketahanan pangan khususnya bagi masyarakat di sekitar wilayah kerja Freeport.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama ini, masyarakat Papua sudah mulai akrab dengan beras yang lebih banyak didatangkan dari luar Papua dibandingkan dengan sagu. Padahal sagu merupakan sumber pangan pokok lokal Papua yang mestinya harus dikembangkan untuk ketahanan pangan.

"Kalau yang di sirsat itu tujuannya untuk research, ternyata (sirsat) bisa ditanami sagu. Ini yang berkaitan dengan reklamasi tambang," kata Yahya disela-sela acara  seminar dan lokakarya nasional sagu di Bogor, Jawa Barat, Kamis (14/10/2010).

Sementara untuk dusun sagu tanam seluas 85 hektar, pihak Freeport  menyediakan bibit unggul sagu  yang di beli dari Jayapura ke kampung Nayaro. Untuk kemudian ditanam para penduduk lokal di kampung Nayaro.

"Ini untuk sumber pangan bagi Suku Kamoro yang menjadi binaan kami, dimulai tahun 2007, selesai penanaman 2009. Bukan kami yang menanam mereka terlibat dalam penanaman," katanya.

Yahya menambahkan selain merangkul Suku Kamoro, pihaknya juga melibatkan  Universitas Negeri Papua, Keuskupan Timika, dan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Mimika.

Warga Suku Kamoro yang dilibatkan mencapai 141 kepala keluarga,  di mana setiap kepala keluarga mendapatkan lahan 0,6 hektar dari 85 hektar yang tersedia. Dimana hasilnya  seluruhnya akan digunakan oleh masyarakat sekitar.

Penanaman pohon sagu di kampung Nayaro dimulai sejak 2007 dan diperkirakan baru dapat dipanen pada 2015.

"Keterlibatan masyarakat sangat besar dalam hal pemeliharaan, mereka biasa memandang sagu dibiarkan saja tumbuh sendiri, padahal perlu dipelihara ini menyangkut produktivitas sagu," ujarnya.

Menurut Yahya berdasar hasil penelitian dari Univeritas Negeri Papua  satu pohon sagu unggulan  mampu memproduksi 500-800 kg tepung sagu basah, sementara pohon sagu non unggulan hanya menghasilkan 150-300 kg.

"Potensi produksi 30 ton per hektar setara tepung basah," jelasnya.

Ia menuturkan saat ada kekhawatiran mengenai konsumsi sagu di Papua, pasalnya generasi muda disana terutama perkotaan sudah lebih memilih nasi sebagai makanan pokoknya. Selain itu produksi pohon sagu alam cenderung memiliki produktivitas rendah.

Harga tepung sagu basah di Mimika pun cukup tinggi saat yaitu setiap  20 Kg dihargai Rp 200.000.

(hen/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads