Gubernur Riau Rusli Zainal mengungkapkan, pembangunan pembangkit itu akan selesai di tahun 2016 dan akan menghasilkan tambahan daya sebanyak 200 MW yang diharapkan bisa mengatasi buruknya kondisi kelistrikan di Riau.
"Listrik di Riau itu sangat jelek, elektrifikasi baru 42,62 persen masih di bawah rata-rata nasional yang sebanyak 66%. Masih sangat-sangat jelek," ujarnya dalam diskusi di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (15/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai wilayah penghasil CPO tersebut, lanjut Rusli, kebutuhan listrik di Riau sangat penting. Untungnya, para produsen crude palm oil (CPO) tidak mengandalkan listrik dari PLN, karena menggunakan pembangkit sendiri.
Menurutnya, kebutuhan listrik para produsen CPO di wilayah Riau itu sekitar 2.000 MW. "Bisa dibayangkan dengan kondisi listrik seperti sekarang ini, mana bisa PLN sediakan sebanyak itu," jelasnya.
Saat ini, ada lima pembangkit yang memberikan listrik kepada wilayah Riau, yaitu PLTA Koto Panjang 114 MW, PLTG Teluk Lembu 43,3 MW, PLTD Teluk Lembu 7,5 MW, PLTD Dumai/Bagan Besar 8MW dan PLTG Riau Power 20 MW. Total daya terpasang listrik dari seluruh pambangkit tersebut sebanyak 190,8 MW.
(ang/qom)











































