Daerah Lumbung CPO Tak Gentar Isu Negatif Sawit

Daerah Lumbung CPO Tak Gentar Isu Negatif Sawit

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Jumat, 15 Okt 2010 17:05 WIB
Jakarta - Isu tak sedap seputar perusakan lingkungan oleh produsen sawit nasional oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi dan penjualan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Provinsi Riau sebagai salah satu produsen CPO terbesar di Indonesia tak mengkhawatirkan isu ini.

Pasalnya, menurut Gubernur Riau Rusli Zainal, isu tak sedap itu sudah dilakukan sejak tahun 2006 dan selalu dilayangkan sekitar bulan Oktober dan November, mendekati masa panen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sejak tahun 2006 selalu bulan Oktober dan November pasti ada Greenpeace. Sebentar lagi mereka datang, sekarang sedang di Thailand," katanya dalam diskusi di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (15/10/2010).

Ia mengatakan, Riau memiliki 8 juta hektar hutan secara keseluruhan, sebanyak 4,3 juta hektar dari jumlah tersebut dijadikan hutan kawasan yang bisa dikembangkan untuk kepentingan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Sedangkan 1,3 juta hektar sebagai cadangan hutan konversi.

Dengan luas kawasan sebanyak itu, Riau memproduksi 38% sawit nasional atau setara dengan 40% dari produksi dunia. Luas area perkebunan sawit di Riau setara dengan 37% dari total luas perkebunan sawit di Indonesia.

Ia menilai, isu tidak sedap yang sering diluncurkan oleh beberapa pihak terhadap produsen sawit lokal lebih ke arah persaingan usaha. Pasalnya, Malaysia yang juga menjadi produsen sawit tidak pernah terkena isu negatif.

"Padahal kalau kualitas masih bagus Malaysia. Kita ini menang di kuantitas jadi banyak pihak yang merasa terancam dengan jumlah yang banyak itu," imbuhnya.

Padahal, menurutnya, produk sawit sendiri merupakan komoditi yang ramah lingkungan dan bisa dibuat menjadi berbagai produk turunan yang ramah lingkungan seperti energi terbarukan dari minyak sawit.

"Selain itu perputaran (panen) kita ini cepat sekali, misalnya kayu akasia dalam 6 tahun saja sudah panen. Berbeda dengan pinus yang butuh 25-40 tahun di negara-negara lain. Jadi mereka itu tidak mungkin bersaing. Ini semua lebih kepada kompetisi bisnis," imbuhnya.

(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads