"Kami juga sudah pernah presentasikan ini kepada Presiden SBY, tapi belum ada respon lebih lanjut. Justru pada waktu kami presentasikan ke pihak Malaysia mereka lebih proaktif," kata Gubernur Riau Rusli Zainal di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (16/10/2010).
Menurutnya, estimasi pembangunan jembatan ini masih dihitung oleh pemerintah. Namun kisarannya sekitar US$ 11 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jembatan ini tidak menjadi prioritas karena pemerintah Indonesia masih akan berkonsentrasi kepada pembangunan Jembatan Selat Sunda terlebih dahulu. Maka dari itu, jembatan yang akan menghubungkan Indonesia dan Malaysia secara langsung ini baru akan dibangun jika Jembatan Selat Sunda sudah rampung.
"Presiden (SBY) juga sebenarnya mendukung. Tapi memang sekarang ini yang prioritas kan proyek Jembatan Selat Sunda. Jadi masih harus menunggu," imbuhnya.
Ia berharap, dengan adanya jembatan yang menghubungkan Indonesia dan Malaysia secara langsung itu maka kerjasama kedua negara itu akan semakin baik. Kesejahteraan masyarakat pun diperkirakan meningkat dengan hal ini.
Pemerintah provinsi Riau juga berniat membangun kawasan wisata dan infrastruktur penunjang lainnya di Pulau Rupat sebagai pulau terluar di Riau yang menjadi penghubung jembatan Selat Malaka tersebut.
Ia mengatakan, sebagai tahap awal, nantinya akan dibangun infrastruktur jalan dan jembatan di Jalan Lubuk Gaung-Dumai sepanjang 15 km, Jembatan Lubuk Gaung-Pulau Mampu sepanjang 1.900 km, Jembatan Pulau Mampu-Pulau Payung sepanjang 2.000 m serta Jembatan Pulau Payung-Pulau Rupat sepanjang 2.000 m.
Setelah semua itu rampung, selanjutnya dibangun jalan di Pulau Rupat sepanjang 48 km, Jembatan Selat Medang sepanjang 200 m, Jembatan Sei Simpur sepanjang 190 m, Jembatan Sei Medang Dalem 1 sepanjang 150 m dan Jembatan Sei Medang Dalem 2 sepanjang 225 m.
Semua jalan itu merupakan satu kesatuan menjadi jembatan yang menembus Selat Malaka serta menghubungkan Indonesia dan Malaysia secara langsung.
(ang/qom)











































