"Di NTT Teluk Kupang dan Nagakeo, sekarang investor sudah turun, lahan-lahan di situlah yang paling bagus lokasinya. Ciri-cirinya hampir beda-beda tipis dengan lokasi Cheetam (investor) di Australia," kata Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun di kantornya, Jakarta, Senin (18/10/2010).
Alex menuturkan jika proses produksi di NTT berhasil maka produksi garam nasional akan mendapat tambahan selain dari Madura dan Pesisir Pantai Utara Jawa. Selain itu, masuknya Cheetam sebagai investor maka dipastikan hasil produksi garamnya terjamin kualitasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Alex, masalah industri garam dalam negeri bukan hanya bermasalah pada sisi produksi namun juga dari sisi kualitas. Bahkan dengan adanya cuaca yang ekstrem saat ini produksi garam nasional semakin keteteran hingga memunculkan upaya impor tambahan 2010.
"Produksi garam 2010 semakin kacau, karena hujan setiap hari," katanya.
Sebelumnya Cheetam Salt Ltd, perusahaan garam asal Australia telah menggandeng Pemda NTT untuk menggarap lahan garam di Kabupaten Nagakeo Nusa Tenggara Timur (NTT) seluas 2.100 hektar.
Jika ini direalisasikan maka akan ada tambahan produksi garam nasional sebesar 250.000 ton per tahun. Diharapkan akan terserap 2.000 tenaga kerja dari realisasi kerjasama ini.
Pihak Cheetam akan memberikan pembinaan teknologi garam kepada petani rakyat. Nantinya produksi garam di NTT tersebut akan diolah di pabrik garam Cheetam di Cilegon.
Seperti diketahui produksi garam Indonesia rata-rata per tahun hanya mencapai 1,1-1,4 juta ton sementara kebutuhan garam lebih besar yaitu 2,985 juta ton artinya Indonesia masih banyak mengimpor garam.
Bahkan pada tahun 2015 diperkirakan kebutuhan garam dalam negeri mencapai 5 juta ton karena didorong oleh peningkatan permintaan garam industri dan rumah tangga.
"Kebutuhan garam setiap tahun bertambah 2%," kata Alex.
(hen/dnl)











































