Dari sembilan sektor industri pengolahan atau manufaktur hanya sektor industri otomotif melesat jauh meninggalkan sektor lainnya yang masih tumbuh tipis bahkan negatif.
Sekjen Kementerian Perindustrian Ansari Bukhari mengakui hingga triwulan II-2010 masih terdapat 4 sektor yang masih melempem atau tumbuh minus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita optimistis yang negatif ini akan kita perbaiki," tegas Ansari di kantornya, Jakarta, Senin (18/10/2010).
Menurutnya pemerintah akan mengoptimalkan kinerja sektor industri, termasuk dari sisi kebijakan insentif dan dukungan investasi. Misalnya rencana adanya insentif tax holiday dan pembangunan pabrik baja Krakatau Steel dengan Posco akan mendongkrak pertumbuhan industri baja.
Khusus untuk sektor tekstil, barang kulit, dan alas kaki justru kinerjanya anjlok, padahal pada tahun sebelumnya periode yang sama pertumbuhan masih mengalami pertumbuhan positif 0,53%.
Ansari menuturkan sektor lain yang justru tumbuh positif signifikan adalah sektor industri alat angkut, mesin, dan peralatan tumbuh tinggi hingga 12,16%, makanan minuman dan tembakau 2,01%, pupuk kimia dan barang dari karet 3,08%, semen dan barang galian 2,43%, barang lainnya 5,71%.
Pada triwulan II-2010 total pertumbuhan industri manufaktur hanya tumbuh 4,91% atau sedikit di atas target yang hanya 4,65%.
Sementara itu Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun mengatakan hingga kini masih yakin kinerja industri manufaktur bisa tumbuh sesuai target hingga akhir tahun. Dari sisi kinerja kementerian, Alex mengklaim kementeriannya tak mendapatkan raport merah khususnya setelah tiga bulan sejak Oktober 2009 lalu.
"Deindustrialisasi, mulai kita jauhi dengan peningkatan-peningkatan tadi," ujar Alex.
(hen/dnl)











































