"Kita akan naik dan mencapai rekor tertinggi untuk non migas US$ 120 miliar," ungkap Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar usai acara Nielsen Consumer 360 Conference di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta, Selasa (19/10/2010).
Ia menambahkan, tren pertumbuhan ekpor memang akan terus terjaga, meskipun peningkatan tidak sebesar di tahun 2009. Dan yang menjadi tantangan adalah, bagaimana negara-negara berkembang termasuk Indonesia, bisa menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan, di tengah belum pulihnya kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Total ekspor non-migas Indonesia sepanjang 8 bulan tahun ini mencapai US$ 81,7 miliar atau meningkat 36,25% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sektor industri mencatat pertumbuhan volume ekspor non-migas tertinggi sepanjang Januari-Agustus 2010 menjadi US$ 61,4 miliar, dari periode yang sama tahun lalu US$ 45,6 miliar. Selain sektor industri, pertambangan, dan pertanian juga tercatat meningkat.
Ekspor sektor pertambangan mencapai US$ 17,2 miliar meningkat 47,4% dari periode yang sama tahun lalu yang besarannya mencapai US$ 11,6 miliar. Sementara pertanian juga naik tipis dari US$ 2,8 miliar ke posisi US$ 3,2 miliar.
Kondisi perdagangan Indonesia di tahun ini terus menguat, setelah mengalami kontraksi di 2009. Total perdagangan sepanjang Januari-Agustus mencapai US$ 186,5 miliar, atau secara rata-rata mencapai US$ 23,3 miliar. Di bulan Agustus bahkan neraca perdagangan mencapai US$ 26 miliar.
Mahendra menambahkan, ekspor Indonesia saat ini bergeser ke China, India, dan Afrika dari Amerika Serikat. Sebagai catatan ekspor Indonesia ke China sebesar 50%. China mengungguli Amerika Serikat (AS) sebagai negara tujuan ekspor produk- produk nonmigas Indonesia.
Pada Agustus, nilai ekspor ke China mencapai US$ 1,24 miliar atau lebih tinggi dibanding ke AS yang sebesar US$ 1,14 miliar.
(wep/dnl)











































