Konsumsi BBM Subsidi Capai 28,54 KL Hingga September

Konsumsi BBM Subsidi Capai 28,54 KL Hingga September

- detikFinance
Selasa, 19 Okt 2010 12:40 WIB
Jakarta - Jumlah bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang sudah dijual PT Pertamina (Persero) hingga akhir September 2010 mencapai 28,54 juta kilo liter (KL). Angka ini setara dengan 78,1% dari kuota BBM bersubsidi yang ditetapkan dalam anggaran pendapatan belanja negara perubahan (APBN-P) 2010 sebesar 36,5 juta KL.

"Angka ini masih angka sementara dan belum diverifikasi," kata anggota Komite BPH Migas Adi Subagyo saat dihubungi wartawan, Selasa (19/10/2010).

Adi menyatakan, konsumsi BBM bersubsidi sebanyak 28,54 juta KL tersebut terdiri dari konsumsi premium 17,11 juta KL atau sekitar 79,84% dari kuota premium dalam APBN-P 2010 yang sebesar 21,43 juta KL. Sementara penjualan solar sebanyak 9,57 juta KL atau sekitar 85,52% dari kuota 11,19 juta KL.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sedangkan minyak tanah 1,85 juta KL (48,68% dari kuota 3,8 juta KL)," jelasnya.

Sebelumnya, Pertamina memperkirakan jatah BBM bersubsidi yaitu premium dan solar tersebut akan habis pada awal November 2010 mendatang.

Pemerintah telah meminta agar kuota BBM bersubsidi pada tahun 2010 ditambah dari jatah sebesar 36,5 juta kiloliter (KL) menjadi maksimal 39,23 juta KL.

"Kuota volume BBM bersubsidi tahun 2010 kan ada nilai volume dan rupiahnya. Untuk itu kami meminta agar kuota volume dibolehkan ditambah," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo.

Menurut dia, penambahan kuota tersebut dimungkin selama anggaran subsidi BBM tidak berubah karena rata-rata realisasi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) masih berada di kisaran US$ 77 per barel, sementara asumsi ICP dalam APBN-P 2010 dipatok di level US$ 80 per barel. "Jadi nilai subsidinya tidak ditambah," kata dia.

Evita mengusulkan agar penambahan kuota BBM bersubsidi maksimal bisa mencapai 39,23 juta KL. Pasalnya, berdasarkan perhitungan pemerintah realisasi konsumsi BBM bersubsidi hingga akhir tahun akan mencapai angka itu.

"Maksimum 39 juta KL. Mudah-mudahan usulan itu bisa diterima," katanya.

(epi/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads