Menurut Anggota Komite BPH Migas, Adi Subagyo. pihaknya sudah menginstruksikan Pertamina untuk menambah pasokan BBM non subsidi di masyarakat. Hal ini merupakan bagian dari penataan penjualan BBM bersubsidi yang ditugaskan kepada Pertamina.
"Kami berharap dengan adanya tambahan pasokan itu maka akan lebih banyak masyarakat membeli BBM non subsidi, sekaligus bisa menekan 5% penjualan BBM bersubsidi di setiap SPBU," ungkap Adi saat dihubungi, Selasa (19/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini diamini oleh anggota Komite BPH Migas Ibrahim Hasyim. Ia menyatakan rencana penambahan kuota BBM non subsidi tersebut dilakukan agar realisasi konsumsi BBM bersubsidi tidak terlalu jauh dari apa yang sudah ditetapkan dalam APBN-P 2010 sebesar 36,5 juta KL.
"Yang penting ada penghematan dalam jumlah tertentu. Pada pertengahan Juni kan konsumsi BBM bersubsidi diperkirakan bengkak sampai 40,1 juta KL, tapi kemarin kami sampaikan bisa diturunkan jadi sekitar 39 juta KL. Kalau ini dilakukan mungkin over kuotanya bisa ditekan," ungkapnya.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun menyatakan pihaknya siap melakukan kebijakan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi tersebut.
"Target lima persen cukup realistis karena saat ini konsumsi BBM non subsidi di masyarakat mulai meningkat," katanya.
Saat ini, lanjut dia, penjualan pertamax memang menunjukkan peningkatan yaitu dari 2.000 kiloliter (KL) per hari menjadi 2.180 KL.
Harun menegaskan, perseroan tidak akan mengurangi pasokan BBM bersubsidi seperti premium di SPBU-SPBU miliknya. Menurut dia, konsumsi premium di masyarakat nantinya akan berkurang seiring dengan adanya penambahan pasokan pertamax di masyarakat.
"Jadi nanti konsumsi BBM bersubsidi ini akan berkurang dengan sendirinya," tambahnya.
(epi/dnl)











































