"Dan 2010, Januari-Juli sudah capai US$ 7 miliar, atau mendekati keseluruhan seluruh tahun 2008 lalu," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu saat jumpa pers mendampingi Wapres Boediono di Liyuan Resort, Kota Nanning, Provinsi Guangxi, China, Selasa (19/10/2010).
Menurut Mari, ekspor kenaikan ekspor itu hanya untuk nonmigas, sementara ekspor migas hingga saat ini masih menurun. Sebagai perbandingan, ekspor Indonesia ke China pada 2009 lalu naik dari US$ 7,3 miliar ke US$ 8 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyinggung mengenai penerapan Asia China Free Trade Agreement (AC-FTA), Mari menyetujui pendapat Wapres bahwa yang terpenting saat ini adalah implementasi kerjasama. Indonesia memegang prinsip AC-FTA harus saling menguntungkan dan menjaga keseimbangan.
"Mungkin kata kuncinya kita sudah sepakat di level tinggi maupun antar Mendag kita akan jaga supaya perdagangan kita ke depan akan berimbang berkelanjutan dan saling menguntungkan. Dan ini perjanjian yang sudah kita capai," katanya.
Menurutnya, ada tiga sektor yang boleh dikatakan masih menimbulkan kekhawatiran bagi Indonesia dalam penerapan AC-FTA itu, yaitu sektor industri besi baja, tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki. Akan tetapi, Indonesia akan segera menandatangi beberapa kesepakatan untuk mengatasi hal itu.
"Sedang dirintis beberapa MoU antara beberapa asosiasi tekstil di sini. Lalu, bagaimana mendorong financing daripada invesment dan trade. Kita saja akan kerja sama dengan Bank Exim di China. Itu menjadi salah satu hal yang kita rintis. MoU-nya akan kita tandatangani di Beijing," tutup Mari.
(irw/dnl)











































