"Khususnya industri yang buat mesin tekstil, mesin-mesin tekstil kita sudah tua di atas 25 tahun, sehingga tidak kompetitif lagi, dan ada program untuk restrukturisasi untuk memperbarui mesin-mesin tekstil itu. Lebih dari 250 pabrik tekstil yang harus direstrukturisasi," papar Hidayat.
Hal itu dikatakan dia saat mendampingi Wakil Presiden Boediono jumpa pers mengenai kunjungan kerjanya ke China 18-20 Oktober di Liyuan Resort, Kota Nanning, Provinsi Guangxi, China, Selasa (19/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut mantan Ketua Umum Kadin tersebut, Indonesia saat ini memang memerlukan kerjasama industri barang-barang modal. Selama ini, neraca perdagangan Indonesia cenderung defisit karena banyaknya impor barang-barang jadi seperti tekstil.
"Saya sedang dalam proses bernegosisasi dengan mereka, sedang bicara bebeberapa hal fasilitas pemerintah Indonesia biar disiapkan dan segala macam, karena mereka juga membandingkan dengan Vietnam dan negara ASEAN lain," tuturnya.
Kerjasama Industri Baja
Selain itu, Hidayat menambahkan, kunjungan pemerintah ke China ini juga dimanfaatkan untuk menjajaki kerjasama dengan China supaya industri baja di kedua negara bisa dikawinkan.
Saat ini, sudah ada 2 perusahaan baja di China yang didekati pemerintah. Salah satunya adalah perusahan baja terbesar di Provinsi Hainan, BAO Steel.
"Nanti kami harapkan dalam waktu dekat dapat merealisisr, karena di Indonesia sektor baja mengalami kekurangan, kita banyak sekali mengimpor. Industri kita membutuhkan bahan baku baja itu besar," cetusnya.
(irw/dnl)










































