Sementara untuk solar mencapai 9.497.671 KL atau 84,84% dari kuota dalam APBN-P 2010 yang dipatok di level 11.194.175 KL
"Realisasi premium ini sudah 6% di atas kuota bulanan dan solar 13% di atas kuota bulanan," ujar Kepala Badan Pelaksana Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Tubagus Haryono dalam pesan singkatnya, Jumat (22/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, Tubagus menegaskan rata-rata realisasi konsumsi BBM bersubsidi sepanjang Januari hingga September mencapai 28.346.895 KL dari kuota BBM bersubsidi dalam APBN-P 2010 sebesar 36,5 juta KL.
"Data tersebut masih belum diverifikasi BPH Migas. Kami juga meminta Pertamina segera melakukan penataan sambil menunggu perubahan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2005 dan Perpres Nomor 9 Tahun 2006," tambahnya.
Sebelumnya, Pertamina memperkirakan jatah BBM bersubsidi yaitu premium dan solar tersebut akan habis pada awal November 2010 mendatang.
Pemerintah telah meminta agar kuota BBM bersubsidi pada tahun 2010 ditambah dari jatah sebesar 36,5 juta kiloliter (KL) menjadi maksimal 39,23 juta KL.
"Kuota volume BBM bersubsidi tahun 2010 kan ada nilai volume dan rupiahnya. Untuk itu kami meminta agar kuota volume dibolehkan ditambah," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo.
Menurut dia, penambahan kuota tersebut dimungkin selama anggaran subsidi BBM tidak berubah karena rata-rata realisasi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) masih berada di kisaran US$ 77 per barel, sementara asumsi ICP dalam APBN-P 2010 dipatok di level US$ 80 per barel. "Jadi nilai subsidinya tidak ditambah," kata dia.
Evita mengusulkan agar penambahan kuota BBM bersubsidi maksimal bisa mencapai 39,23 juta KL. Pasalnya, berdasarkan perhitungan pemerintah realisasi konsumsi BBM bersubsidi hingga akhir tahun akan mencapai angka itu.
"Maksimum 39 juta KL. Mudah-mudahan usulan itu bisa diterima," katanya.
(epi/dnl)











































