"Saya punya wacana nanti makin ke hilir royaltinya harusnya makin berkurang karena ada nilai tambahnya. Supaya orang itu tertarik untuk berinvestasi di sektor hilir seperti pengolahan dan pemurnian barang tambang. Jadi ada insentifnya di situ," ujar Dirjen Minerba, Kementerian ESDM, Bambang Setiawan di Hotel Darmawangsa, Jakarta, Jumat (22/10/2010).
Bambang menyatakan pemberian insentif berupa pengurangan besaran royalti di sektor hilir pertambangan memang harus dilakukan. Karena hingga saat ini masih sedikit investor yang tertarik berinvestasi di sektor hilir karena kecilnya marjin yang dapat diperoleh para investor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau harga royaltinya hulu dan hilir sama, nanti orang bilang untuk apa investasi di sektor hulu? Padahal kan bedanya banyak, kaya nikel nambang-nya gampang paling berapa juta dolar, tapi begitu dia mau diproses itu butuh berapa blilion dolar di sini (hilir)," jelasnya.
Adapun beberapa industri hilir yang perlu diberikan insentif berupa pengurangan besaran royalti yaitu komoditas nikel, tembaga, dan mangan.
"Kaya saya kasih contoh nikel, copper, mangan. Logam terutama. Tetapi kalau emas saya kira tidak perlu karena emas sudah jalan. Selain itu perlu diberikan insentif dalam bentuk lain untuk industri hilir pertambangan yang benar-benar pionir atau di daerah terpencil," tambahnya.
(epi/qom)











































