G20 Terus Dorong Penghapusan Subsidi BBM

G20 Terus Dorong Penghapusan Subsidi BBM

- detikFinance
Senin, 25 Okt 2010 11:30 WIB
Jakarta - Negara-negara G20 terus mendorong negara-negara anggotanya untuk mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM). Pemberian subsidi terhadap BBM dinilai tidak efisien.

"Kami mencatat kemajuan yang dibuat dalam rasionalisasi dan pembatasan subsidi yang tidak efisien untuk bahan bakar fosil dan mendorong transparansi pasar energi dan stabilitas serta setuju untuk memantau dan menilai kemajuan terhadap komitmen ini pada pertemuan puncak di Seoul," demikian isi komunike pertemuan G20 di Gyeongju, Korea Selatan yang dikutip, Senin (25/10/2010).

Sejak pertemuan di Pittsburgh tahun lalu, G20 mulai meminta para anggotanya termasuk Indonesia untuk menghapuskan subsidi BBM secara perlahan. Alasannya untuk mengatasi pemanasan global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat itu dikatakan, dana sekitar US$ 300 miliar per tahun dihabiskan untuk subsidi BBM di seluruh dunia, yang mendorong permintaan di banyak negara sehingga harga minyak meningkat.

Selain penghapusan BBM, pertemuan G20 di Korsel yang dihadiri para menteri keuangan dan gubernur bank sentral ini juga menyatakan kondisi terkini ekonomi global khususnya di negara maju masih memprihatinkan.

Sebagai anggota, pemerintah juga akan menjalani kesepakatan tersebut. Mulai 2011, pemerintah akan melakukan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi termasuk premium dan solar. Ini dilakukan untuk menekan subsidi BBM yang terus membengkak.

Beberapa kesepakatan para negara anggota antara lain adalah, meminta negara maju melaksanakan konsolidasi fiskal secara kredibel dengan memperhatikan dampak pemulihan ekonomi global.

Lalu, melakukan upaya untuk menerapkan sistem nilai tukar yang merefleksikan fundamental ekonomi dan menghindari devaluasi kompetitif mata uang.

Negara maju akan menjaga agar volatilitas mata uang tidak terlalu besar sehingga turut melindungi emerging market dari dampak arus modal yang fluktuatif.

G20 sepakat untuk mendorong sistem moneter internasional yang efektif dan stabil, serta menugaskan IMF untuk membantu analisa terhadap dampak sistemik kebijakan ekonomi.  

Dalam pertemuan tersebut juga disebakati untuk reformasi sistem keuangan global untuk mencegah kembali terjadinya krisis ekonomi. (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads