SBY Harus Lobi China agar Mau Terima Barang 'Setengah Jadi' dari RI

SBY Harus Lobi China agar Mau Terima Barang 'Setengah Jadi' dari RI

- detikFinance
Senin, 25 Okt 2010 16:30 WIB
SBY Harus Lobi China agar Mau Terima Barang Setengah Jadi dari RI
Jakarta - Mesranya hubungan Indonesia-China beberapa tahun terakhir semakin memunculkan persepsi tingginya 'ketergantungan' Indonesia terhadap Negeri Tirai Bambu tersebut khususnya infrastruktur.

Sementara China juga semakin memantapkan kebutuhannya terhadap barang mentah komoditas pertambangan (raw material) dari Indonesia seperti batubara, CPO, gas, karet dan lain-lain untuk industrinya.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan momen kunjungan Presiden SBY ke China harus bisa meningkatkan posisi tawar Indonesia agar ekspor raw material ke China bisa ditingkatkan menjadi bahan setengah jadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini bisa direalisasikan dengan menarik investasi China ke Indonesia agar ada penciptaan nilai tambah di Indonesia.

"Kita suka tidak suka, mau tidak mau bagaimana pun China menjadi kaisar manufaktur dunia dan juga pemilik cadangan devisa terbesar maka penentu stabilitas moneter dunia, termasuk AS obligasinya China yang beli," katanya Ade ketika dihubungi detikFinance, Senin (25/10/2010).

Ia menegaskan, RI dan China memiliki hubungan yang saling merapat dan saling membutuhkan. Karenanya, Indonesia harus sebisa mungkin meningkatkan posisi tawarnya terhadap China.

"China membutuhkan raw materal, kunjungan Pak SBY harus memiliki posisi tawar. Raw material sudah saatnya diolah menjadi setengah jadi, lalu dikirim ke China, seperti iron ore, timah, alumunium," katanya.

China juga dinilai Ade sangat memiliki kepentingan terhadap Indonesia. Hal ini terlihat dari keberanian China untuk mendanai sejumlah proyek infrastruktur khususnya untuk pembangunan proyek listrik 10.000 MW, dimana sebanyak 90% investor China. Fakta ini, lanjut Ade, semakin memantapkan persepsi bahwa China sangat berkepentingan dengan Indonesia.

"Indonesia masih dipandang berisiko, Jepang saja nggak ada yang berani, tetapi China masu masuk di 10.000 MW. Misalnya juga proyek Waduk  Jati Gede yang sudah 40 tahun terbengkalai sudah diselesakan China, jalan tol Sumedang juga dan lain-lain," katanya.

Dari kondisi saat ini, menurut Ade posisi kedua negara belum sejajar. Menurutnya posisi Indonesia harus meningkatkan ekspor setengah jadi ke China dan mengurangi barang mentah ke China. Sementara China juga harus meningkatkan investasinya ke Indonesia.

"Sekarang ini belum sejajar, itu yang harus  ditingkatkan barang olahan ke China. Ini juga akan meningkatkan daya beli orang Indonesia dan bisa membeli barang dari China," katanya.

Selain itu kata dia, kunjungan SBY ke China bukan hanya meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam mengirim barang setengah jadi ke China. Namun SBY juga harus meningkatkan bilateral ekonomi kedua negara.

"Kita sangat sadar betul, China jangan dilawan, tapi harus dijadikan kawan yang baik," ucapnya.

Agenda Presiden SBY ke China 26 Oktober 2010,  diantaranya selain mengunjungi Paviliun Indonesia di Shanghai juga menyaksikan 26 penandatangan MoU dibidang pertambangan, infrastruktur, energi, ekonomi kreatif, perikanan dan pertambangan.

(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads