"Rupiah kuat buat industri bagus. Tentu margin naik. Cuma impor kini banyak dari India dan China. Jadi mereka (margin) naik juga. Kita tidak menikmati apa-apa," kata Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk (KAEF) Sjamsul Arifin di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Senin (25/10/2010).
Menurutnya, agar industri farmasi dalam negeri bisa lebih maju, pelakunya harus mandiri. Yakni, tidak memiliki ketergantungan akan bahan baku dari luar negeri. Caranya, dengan terus mengembangkan riset untuk temuan baru obat-obatan, serta perhatian pemerintah dalam bentuk perlindungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan, bagaimana China mengimpor bahan baku vitamin C, berupa tanaman singkong ataupun sorbitol, dan kemudian Indonesia membeli kembali produk vitamin C yang sudah siap konsumsi.
"Vitamin C, China impor dari kita. Tanaman singkong di Lampung dan diproses sorbitol di Pandaan. Mereka olah dan kirim lagi ke kita," tegas Sjamsul.
"Memang obat (industri farmasi) terlalu asik di marketing. Tidak di riset. Pemerintah harus punya kebijakan akan impor itu. Beri stimulus, kita belum ada pioneering," tambahnya.
(wep/dnl)










































