Rupiah Menguat, Industri Obat Lokal Terancam Produk China

Rupiah Menguat, Industri Obat Lokal Terancam Produk China

- detikFinance
Senin, 25 Okt 2010 20:51 WIB
Jakarta - Penguatan rupiah terhadap dolar AS ternyata tidak dinikmati oleh pelaku industri farmasi di Indonesia. Malah menjadi ancaman baru obat-obatan lokal adalah produk asal China dan India.

"Rupiah kuat buat industri bagus. Tentu margin naik. Cuma impor kini banyak dari India dan China. Jadi mereka (margin) naik juga. Kita tidak menikmati apa-apa," kata Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk (KAEF) Sjamsul Arifin di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Senin (25/10/2010).

Menurutnya, agar industri farmasi dalam negeri bisa lebih maju, pelakunya harus mandiri. Yakni, tidak memiliki ketergantungan akan bahan baku dari luar negeri. Caranya, dengan terus mengembangkan riset untuk temuan baru obat-obatan, serta perhatian pemerintah dalam bentuk perlindungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Proteksi memang bukan salah satu yang populis. Namun kalau kita langsung dihadapkan dengan China dan India yang sudah lebih lama, akan sulit," tambahnya.

Ia mencontohkan, bagaimana China mengimpor bahan baku vitamin C, berupa tanaman singkong ataupun sorbitol, dan kemudian Indonesia membeli kembali produk vitamin C yang sudah siap konsumsi.
 
"Vitamin C, China impor dari kita. Tanaman singkong di Lampung dan diproses sorbitol di Pandaan. Mereka olah dan kirim lagi ke kita," tegas Sjamsul.

"Memang obat (industri farmasi) terlalu asik di marketing. Tidak di riset. Pemerintah harus punya kebijakan akan impor itu. Beri stimulus, kita belum ada pioneering," tambahnya.

(wep/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads