Pjs Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Agus Supriyanto mengatakan, tambahan kursi kepada Indonesia di forum IMF hanya 0,06%, sesuai kesepakatan dengan AS tidak akan mempengaruhi posisi Indonesia dalam pengambilan keputusan di IMF.
Dari segi persentase, tambahan kursi pada forum IMF tersebut tersebut belum mencapai satu kursi, jadi tidak berpengaruh pada segi perhitungan suara maupun pengambilan keputusan. "Tidak ada banyak perubahan, posisi kita hanya sekitar 0,9 persen saja," ungkap Agus seperti dikutip dari situs Kementerian Keuangan, Senin (25/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, AS memiliki porsi suara lebih dari 15%, yang merupakan suara terbesar dari forum IMF, sehingga dapat menentukan arah dan kebijakan IMF. "Jadi jika kita mengusulkan, tidak akan pernah tercapai jika ditolak Amerika Serikat," ujarnya.
Pemberian kursi yang hanya 0,6% merupakan pembagian kekuatan suara kepada negara berkembang, agar kekuasaan AS terus bertambah besar. "Yang di-reform itu hanya power sharing-nya saja, sebagian voting power negara maju diberikan kepada negara berkembang lalu didistribusikan, tapi dampaknya di Indonesia tidak banyak," pungkasnya.
Seperti diketahui, negara-negara anggota G20 sepakat untuk melakukan reformasi secara besar-besaran di tubuh IMF. Ini dilakukan di tengah pergeseran peta kekuatan ekonomi dunia.
Dalam reformasi tersebut, kekuatan-kekuatan ekonomi baru dunia seperti China akan diberikan porsi kekuatan yang besar dalam pengambilan keputusan di IMF.
Dalam reformasi ini, akan muncul perubahan dalam kursi dewan IMF, negara-negara berkembang sebagai kekuatan ekonomi baru bakal mendapatkan kursi lebih banyak. Negara di Eropa sepakat untuk menyerahkan 2 kursi dewan IMF kepada negara-negara berkembang.
Bahkan sekitar 5% kekuatan suara di IMF juga akan diserahkan kepada negara-negara seperti Brasil, Rusia, India, dan China.
(dnl/dnl)











































