Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies di kampus IPB, Bogor, Selasa (26/10/2010).
"Kita bisa menjual 9 miliar bungkus, orang Afrika sehari bisa makan 9 bungkus," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita bangga dong," kata Ratna.
Dikatakannya pesatnya pasar mi instan di Afrika setidaknya dapat dilihat dari kasus penetrasi pasar mi instan merek Indomie (Indofood) yang sejak tahun 1995 membuka dua pabriknya di Mesir dan Nigeria.
"Awalnya itu cuma setengah juta bungkus per tahun," katanya.
Sementara itu CEO Bogasari Franciscus Welirang mengatakan penjualan Indomie tak terpengaruh pasca heboh isu Indomie 'berbahaya' di pasar Taiwan beberapa pekan lalu. Pasar dalam negeri pun tak terganggu dari isu tersebut.
"Nggak adalah pengaruhnya," kata Franciscus singkat.
(hen/dnl)










































