"Sampai akhir tahun diperkirakan sampai 3,8 juta ton," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies di Kampus IPB, Bogor, Selasa (26/10/2010).
Ratna menuturkan rata-rata pertumbuhan konsumsi terigu nasional per tahun kurang lebih mencapai 6%. Khusus tahun ini, pertumbuhan konsumsi terigu secara fundamental ditopang oleh menggeliat industri mi instan dan biskuit, dan lain-lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini lanjut Ratna akan berdampak pada tingkat importasi gandum. Diperkirakan impor gandum Indonesia akan menggeliat hingga 100% dalam waktu 10 tahun ke depan.
"Sekarang saja impor kita sudah 5 juta ton lebih," katanya.
Ia berharap pemerintah berperan aktif dalam mendorong produksi gandum tropis yang kini sudah dikembangkan oleh produsen terigu khususnya Bogasari. Jika berhasil, hal ini setidaknya bisa menopang kebutuhan gandum nasional.
Mengenai harga terigu sebagai salah produk turunan gandum, semenjak 18 September 2010 sudah naik rata-rata sebesar 2%. Kenaikan ini relatif masih di bawah kenaikan harga gandum dunia.
"Habis lebaran sudah naik 2%, padahal harga gandum sudah naik 60%," katanya.
(hen/dnl)











































