Demikian hasil riset Nielsen per September 2010 yang disampaikan Managing Director The Nielsen Company, Catherine Eddy dalam konferensi persnya di Gedung Mayapada, Jalan Sudirman, Jakarta (28/10/2010).
"Meskipun ada persepsi positif terhadap keuangan pribadi, konsumen lebih berhati-hati dengan pengeluaran mereka ketika ditanyai bagaimana mereka akan menghabiskan sisa uang mereka," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain itu di Indonesia hanya 4% dari konsumen di Indonesia mengatakan bahwa mereka tidak memiliki uang lebih dan ini lebih naik sedikit dari 2% pada awal tahun 2010," tuturnya.
Dari pengeluarkan rumah tangga, Catherine mengatakan masyarakat Indonesia juga mengubah cara mereka membelanjakan uang mereka. Menurutnya 79% mengatakan bahwa mereka telah mengubah cara pengeluaran mereka untuk melakukan penghematan pada pengeluaran rumah tangga.
"Angka ini lebih tinggi dari rata-rata negara asia pasifik dengan 61%," ungkapnya.
Hal ini, sambung Catherine berarti konsumen memang memiliki keyakinan terhadap keadaan keuangan mereka. "Mereka merasa bahwa mereka harus melakukan beberapa hal untuk penghematan terhadap pengeluaran rumah tangga, jadi tetap ada rasa hati-hati dalam perilaku belanja mereka," kata Dia.
Hasil riset Nielsen juga memaparkan, konsumen di negara Asia Pasifik termasuk Indonesia melakukan penghematan rumah tangga dengan mengurangi belanja baju baru, mengurangi hiburan, menunda pembelian barang teknologi dan berhemat untuk listrik dan bensin.
"Konsumen di Indonesia tidak jauh berbeda dengan konsumen di Asia Pasifik, namun konsumen di Indonesia juga melakukan penghematan pengeluaran untuk telepon mencapai 22%," jelasnya.
Lebih lanjut Catherine mengatakan, walaupun keadaan membaik, 31% konsumen akan terus melakukan penghematan untuk bensin dan listrik, 20% akan terus mengurangi belanja untuk baju baru dan 19% akan terus mengurangi hiburan di luar rumah.
(dru/ang)











































