"Sebesar 965.000 bph kayaknya susah. 960.000 bph saja sudah berat. Sepertinya akan di bawah 960.000 bph," ungkap Kepala BP Migas R. Priyono usai penandatanganan perpanjangan kontrak empat blok Migas di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (28/10/2010).
Priyono menyatakan, pihaknya sendiri telah berupaya untuk mencapai target lifting tersebut. Salah satunya dengan melepas stok minyak mentah tiga juta barel ke spot market.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Priyono menerangkan, tidak tercapainya target lifting tersebut disebabkan adanya penurunan rata-rata produksi minyak nasional ke level 950.000 bph akibat bocornya pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia pada akhir bulan lalu.
Kebocoran pipa tersebut telah membuat produksi PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) turun hingga 150.000 bph. Padahal Chevron merupakan kontributor terbesar produksi minyak nasional.
"Hingga kini produksi Chevron masih belum normal. Masih kurang sekitar 10.000 bph," paparnya.
Berdasarkan catatan Priyono, rata-rata produksi minyak nasional hingga 26 Oktober 2010 mencapai 950.705 bph. Sedangkan produksi minyak sepanjang bulan Oktober sebesar 889.949 bph.
Sementara produksi gas nasional sepanjang tahun ini mencapai 8.899 juta kaki kubik (milion standar cubic feet per day/MMSCFD). Produksi gas pada bulan Oktober saja yaitu 8.904 MMSCFD.
"Adapun total produksi minyak dan gas secara keseluruhan yaitu 2.540.645 boepd (barrel oil equivalent per day)," tambahnya.
(epi/dnl)










































