Industri Rokok RI Dapat 'Serangan' dari Asing

Industri Rokok RI Dapat 'Serangan' dari Asing

- detikFinance
Jumat, 29 Okt 2010 17:40 WIB
Jakarta - Industri rokok kretek Indonesia saat ini sedang penuh tekanan khususnya terkait isu kesehatan. Mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris merasa industri di Indonesia saat ini sedang diserang oleh pihak asing.

Fahmi mencontohkan dalam kasus industri rokok khususnya rokok kretek, saat ini sudah banyak mengalami tekanan dari berbagai kepentingan. Fahmi menuding isu kesehatan yang digulirkan oleh kelompok-kelompok seperti Bloomberg Initiative merupakan salah satu contohnya.

"Gerakan yang mengharamkan rokok itu semakin besar. Ada tokoh Walikota New York Michael Bloomberg dan Bill Gates mengeluarkan dana (CSR) yang besar untuk anti rokok. Terbesar US$ 6 juta masuk ke India, US$ 4,2 juta ke Indonesia, China US$ 3 juta," kata Fahmi di Kawasan SCBD, Jakarta, Jumat (29/10/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angka-angka tersebut didapatkan Fahmi dari data yang dikumpulkannya. Fahmi mengatakan dana CSR anti rokok diberikan kelompok-kelompok asing ke Indonesia ke beberapa LSM dan pemerintahan.

Fahmi mengatakan untuk aliran dana anti rokok melalui Bloomberg Initiative ke Indonesia sebagian tersebar ke beberapa LSM dan pemerintahan. Misalnya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menjadi salah satu penerima dengan nilai US$ 454.480 mulai Mei 2008. Antara lain untuk advokasi Kawasan Tanpa Rokok di Jawa khususnya Jakarta, Semarang dan Jakarta.

Dana itu juga mengalir ke Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular sebesar US$ 529.819 mulai September 2008 untuk fokus 100% kawasan tanpa rokok di 7 provinsi. Selain itu juga mengalir ke Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia sebesar US$ 542.600 mulai Agustus 2007 advokasi untuk kawasan tanpa rokok di beberapa provinsi di Indonesia.

Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup DKI Jakarta senilai US$ 360.952 mulai 2009 untuk mencapai Jakarta 100% bebas rokok. Dinas Kesehatan Kota Bogor sebanyak US$ 280.755 mulai Maret 2009, dan Swisscontack Foundation sebanyak US$ 360.952 mulai Mei 2009 tujuannya agar Jakarta 100% bebas rokok.

"Kekayaan Bloomberg cukup besar, termasuk orang kaya di AS," katanya.

Ia mengatakan dari contoh kasus ini nampak adanya ketidakseimbangan dalam industri rokok yaitu di satu sisi industri ini masih dibutuhkan di satu sisi terus mendapat tekanan. Fahmi menilai apa yang dilakukan oleh kalangan anti rokok seperti Michael Bloomberg dilakukan hanya melihat persoalan rokok hanya dari satu sisi saja yaitu dari sisi kesehatan.

"Kita melihat komoditi rokok bukan hanya produk industri dan pusat penyedia lapangan kerja sebanyak 6 juta orang, juga pendapatan negara dari cukai saja Rp 57 triliun. Belum lagi kegiatan transaksi bisnis Rp 120-130 triliun. Rokok bahan bakunya 95% lokal, local content-nya dahsyat sekali," katanya.

Melihat kondisi ini, kata Fahmi, sudah seharusnya produk Indonesia seperti rokok kretek mendapatkan perhatian dari sisi proporsi kebijakannya. Pemerintah sendiri sudah punya roadmap terkait industri rokok yang secara jelas dan tegas, meski saat ini peraturan-peraturan daerah dituding bertabrakan dengan UU Kesehatan yang ada, terkait merokok.

"Kalau ini dibiarkan kretek satu-satunya asli Indonesia bisa meninggal dunia dikeroyok dari luar secara intensif. Gerakannya ada di AS, Kanada, Amerika," katanya.

Selain itu kata Fahmi, produk dalam negeri lainnya juga mendapat tekanan dari kesiapan daya saing negara-negara tangguh seperti China. Dalam kasus semacam ini peranan pemerintah untuk menjaga keseimbangan persaingan perdagangan bebas perlu pertimbangkan.

Ia mencontohkan tersisihkanya produk tekstil lokal dengan produk tekstil China harus menjadi perhatian semua pihak. Misalnya sudah banyak ditemukan tekstil bermotif batik yang berasal dari China di jual di Tanah Abang. (hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads