Hal tersebut disampaikan Presiden ADB Haruhiko Kuroda dalam pertemuan ASEAN di Hanoi, Vietnam, seperti dikutip dari AFP, Minggu (31/10/2010).
Kuroda mengatakan, aliran modal merupakan satu dari dua risiko yang harus dihadapi negara-negara Asia karena mereka berhasil tumbuh setelah terjadinya resesi global pada tahun 2008.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harus bersiap," ujar Kuroda dalam pidatonya yang diikuti oleh para pemimpin negara-negara ASEAN dan beberapa negara besar Asia lainnya.
Ia mengatakan, pertumbuhan negara-negara Asia dapat melebihi pertumbuhan negara-negara maju. Dan pertumbuhan yang lebih cepat serta tingginya imbal hasil dapat menarik aliran modal yang sangat berlebihan dan berpotensi untuk bergejolak ke kawasan ini.
"Pemerintah harus mengamati harga-harga aset dan mata uangnya dengan hati-hati, dan beberapa negara mulai menerapkan kebijakan capital control untuk membatasi spekulasi. Penanganan yang hari-hati harus dilakukan, namun tanpa menciptakan distorsi," imbuhnya.
Seperti diketahui, semenjak krisis finansial menerpa pada tahun 2008, negara-negara maju dari berbagai belahan dunia kini sedang berlomba-lomba memperlemah mata uangnya untuk memperkuat ekspornya agar lebih kompetitif di pasar global.
Negara-negara Asia pun tak luput menjadi 'korban' karena mata uangnya menjadi menguat tajam sehingga mengurangi daya saing ekspornya. Namun Gubernur BI Darmin Nasution sebelumnya mengatakan, BI tidak akan membiarkan rupiah menguat terlalu tajam.
(qom/qom)











































