Neraca Perdagangan RI Surplus US$ 2,55 Miliar di September

Neraca Perdagangan RI Surplus US$ 2,55 Miliar di September

- detikFinance
Senin, 01 Nov 2010 12:20 WIB
Jakarta - Meskipun kinerja ekspor-impor pada bulan September 2010 menurun akibat libur lebaran, namun neraca perdagangan Indonesia pada bulan tersebut masih mencetak surplus sebesar US$ 2,55 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan, ekspor Indonesia di September 2010 tercatat sebesar US$ 12,08 miliar. Naik 22,7% dibanding September 2009, namun turun 12,02% dibandingkan dengan ekspor di Agustus 2010.

"Ekspor migas September mencapai US$ 1,95 miliar, dan ekspor non migasnya US$ 10,13 miliar. Secara kumulatif, ekspor Indonesia Januari-September mencapai US$ 110,81 miliar," tutur Rusman dalam jumpa pers di kantornya, Jalan DR Soetomo, Jakarta, Senin (1/10/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rusman mengatakan, ekspor pada September didominasi oleh komoditas bahan bakar mineral, minyak, dan hewan nabati. Sampai dengan September, pangsa pasar ekspor Indonesia masih didominasi oleh Jepang, AS, dan China.

Sementara untuk impor, pada September 2010 mencapai nilai US$ 9,53 miliar. Nilai ini naik 11,93% dibanding September 2009, namun turun 21,69% dibandingkan Agustus 2010. Penurunan terjadi di sektor non migas sebesar 24,42%.

Impor migas Indonesia sepanjang September 2010 mencapai US$ 2 miliar, dan non migas US$ 7,53 miliar. Untuk kumulatif Januari-September 2010 mencapai US$ 97,17 miliar. Impor ini didominasi oleh komoditas mesin dan peralatan mekanik, serta mesin dan peralatan listrik. Impor Indonesia masih didominasi oleh China, Jepang, dan Singapura.

"Ekspor dan impor di September turun karena bulan puasa dan lebaran. Kegiatan ekspor dan impor slowdown karena apra buruh pulang kampung. Mudah-mudahan usai lebaran kegiatan ekspor dan impor bisa dilanjutkan," jelas Rusman.

Nilai surplus perdagangan Indonesia di September 2010 mencapai US$ 2,55 miliar, dan surplus kumulatif Januari-September 2010 mencapai US$ 13,54 miliar. Surplus ini lebih besar dibandingkan Agustus yang sebesar US$ 1,49 miliar."Ini bisa meningkatkan cadangan devisa," ujarnya.

Rusman juga menambahkan, sampai saat ini Indonesia masih menjadi net importir untuk minyak.
(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads