Volume Perdagangan RI-China Diharap Bisa Tembus US$ 40 Miliar

Volume Perdagangan RI-China Diharap Bisa Tembus US$ 40 Miliar

- detikFinance
Selasa, 02 Nov 2010 10:10 WIB
Volume Perdagangan RI-China Diharap Bisa Tembus US$ 40 Miliar
Jakarta - China kini sudah tumbuh menjadi salah satu negara dengan perekonomian tertinggi di benua Asia. Memasuki tahun ke-60 hubungan diplomatik dengan Indonesia, China berharap volume perdagangan kedua negara bisa mencapai US$ 40 miliar.

Demikian disampaikan Minister Consuler, Embessy People RRC, Fam Qyu Chen dalam perayaan Munas ICBC ke-II di Hotel Gran Melia, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (1/11/2010) malam.

"Volume perdagangan kedua negara hingga kini mencapai US$ 30,35 miliar. Dan semoga bisa tembus US$40 miliar," ungkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama ini perdagangan antar kedua negara ini, menurut Qyu Chen tergolong besar. Dan dirinya berharap, volume perdagangan bisa ditingkatkan dan diperluas cakupan perdagangannya.

"Semoga bisa diperluas diseluruh bidang dan semoga pengurus baru bisa lebih banyak mendorong perdagangan (China-Indonesia)," kata Qyu Chen.

Atas harapan ini, Ketua ICBC Alim Markus pun menyambut baik. Karena selama ini pun, menurut Alim Markus, berdirinya ICBC sebagai wadah pertemuan pengusaha China dan Indonesia dan membangun jaringan bisnis.

"Ini wadah organisasi yang punya anggota beranekaragam dan saling membaur. Bisa kontak dan membentuk jaringan bisnis dengan Tiongkok, dan menarik investor China ke Indonesia untuk berinvestasi, sesuai dengan tema Munas, 'Bersama ICBC, Meningkatkan Ekonomi Indonesia Dalam Era Cafta'," tutur Bos Maspion ini.

ICBC pun siap menambah empat cabang di tahun 2010, hingga nantinya akan berjumlah 22 cabang di daerah-daerah. Selain cabang, ICBC juga memilik lima kantor perwakilan yang ada di kota-kota besar China, seperti Shanghai, Beijing dan lainnya.

"ICBC hanya memberikan service, kita bantu mereka (anggota), free of charge. (nilai) Investasi bisa lewat BKPM," papar Alim.

"Kami menginginkan mereka masuk ke Indonesia dan harapannya (investasi) langsung, tidak melalui pasar modal. Karena kan kalau langsung bisa menyerap tenaga kerja," imbuhnya.

(wep/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads