Pengurus YLKI Huzna Zahir mengatakan jika dibandingkan dengan negara tetangga, konsumen indonesia cenderung memiliki kebiasaan mengadu atau complain habbit yang rendah.
"Di Indonesia itu masyarakatnya cenderung memiliki complain habbit yang rendah. Jika dirugikan sebagai konsumen masyarakat cenderung diam atau tidak melaporkannya," ujarnya Huzna di Kantor YLKI, Pancoran, Jakarta, Selasa (02/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di 2008 saja negara lembaga konsumen di Hong Kong itu menerima 42.000 laporan dan pada 2009 menerima 31.114 laporan dari para konsumennya," ujar Huzna.
Laporan yang masuk, lanjut Huzna di Hong Kong itu memang sebagian besar dilaporkan oleh pengguna jasa keuangan seperti perbankan. Kemudian, lanjut Huzna disusul oleh banyaknya laporan mengenai telekomunikasi. "Dalam hal ini banyak gangguan dari operator selular yang merugikan," jelas Huzna.
Lebih lanjut Ia mengungkapkan angka di negara Hong Kong tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan di Indonesia. Di mana YLKI hanya mencatat kurang lebih 500 laporan per tahun.
"Padahal masyarakat Indonesia itu berjumlah 200 juta jiwa lebih namun cenderung pasif," tuturnya.
Lebih jauh ia mengharapkan adanya kesediaan seluruh nasabah yang merasa dirugikan terkait masalah apapun kepada YLKI.
"Hal ini diperlukan agar mengurangi kejadian yang mengakibatkan kerugian konsumen dan menindaklajuti laporan tersebut," jelas Huzna.
Seperti diketahui, YLKI merupakan lembaga yang bergerak di bidang perlindungan konsumen. Jika konsumen merasa dirugikan YLKI akan mencari solusi seperti mediasi dan menindaklanjuti segala jenis laporan dari masyarakat.
(dru/dnl)











































