"Anggaran yang dialokasikan US$ 20 juta, kita ingin tahu pemanfaatannya dari anggaran itu, feedback-nya terhadap bangsa kita apa?" kata anggota Komisi VI DPR-RI Nasril Bahar saat dihubungi detikFinance, Selasa (2/11/2010).
Sebagai DPR, ia mengharapkan hasil dari pameran tersebut bukan hanya sebagai pameran kreatif yang mendapatkan penghargaan saja. Pameran itu harus bisa mendorong capaian kunjungan 8,1 juta pengunjung menjadi sesuatu yang bisa nyata bagi ekonomi Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski ia mengakui World Expo Shanghai sebagai instrumen pameran cukup penting. Asalkan keberadaan produk Indonesia yang bisa mendorong perekonomian bisa meluas ke pasar global.
"Pemeran ini leader-nya Mendag, paling tidak memberikan laporan secara tertulis kepada pemerintah sekaligus DPR sebagai lembaga pengawasan," katanya.
Seperti diketahui, pembuatan paviliun Indonesia di World Expo Shanghai, China menelan dana hingga US$ 20 juta atau sekitar Rp 180 miliar. Setelah pameran yang berlangsung sejak 1 Mei hingga 31 Oktober itu berakhir, pemerintah memutuskan untuk membongkarnya.
(hen/dnl)










































